Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Oktober 2017

Nasib Tragis Sang Ketua PKI DNI Aidit Ketika Dieksekusi di Sumur Tua!

Kudeta bingung Gerakan 30 September gagal total. Setelah mereka menculik enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD, tak ada gerakan susulan yang dilakukan. Dalam waktu kurang dari 24 jam, mereka langsung dihancurkan Jenderal Soeharto.

Nasib para pelaku dan motor gerakan ini sama tragisnya dengan para jenderal yang mereka bunuh.

Tak ada informasi resmi bagaimana Ketua CC PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit tewas. Setelah G30S gagal, Aidit langsung melarikan diri dari Jakarta. Aidit kabur ke daerah basis PKI di Yogyakarta. 

Aidit lalu berkeliling ke Semarang dan Solo. Dia masih sempat menemui beberapa pengurus PKI di daerah untuk melakukan koordinasi.

Dia bisa ditangkap setelah TNI lebih dulu menangkap seorang tokoh PKI. Orang itulah yang diancam dan dipaksa menunjukkan tempat persembunyian Aidit.

Tanggal 22 November 1965, Aidit ditangkap pasukan Brigade Infantri IV Kostrad di kampung dekat Stasiun Solo Balapan. Aidit bersembunyi dalam sebuah ruangan yang ditutup lemari. Tentara curiga saat melihat ada ruangan yang kelihatan tak wajar.

Aidit yang ditangkap sempat menggertak Letnan yang menggerebeknya.

"Saya Menteri Koordinator!" gertak Aidit.

Letnan itu sempat kecut. Namun dia tetap menjalankan tugasnya. Aidit diperlakukan dengan cukup baik saat ditangkap.

Kepada Komandan Brigif IV, Kolonel Jasir Hadibroto, Aidit minta dipertemukan dengan Soekarno. Aidit mengaku sudah membuat pengakuan tertulis soal G30S. Dokumen itu rencananya akan diberikan pada Soekarno.

Tapi keinginan Aidit tak pernah terpenuhi. Keesokan harinya, Jasir dan pasukannya membawa Aidit ke sebuah sumur tua di belakang markas TNI di Boyolali. Aidit berpidato berapi-api sebelum ditembak. Berondongan AK-47 mengakhiri hidup Ketua Comite Central PKI itu. 

Kuburan pasti Aidit tak diketahui hingga kini.

Tidak Disangka! Inilah 5 Cerita Tragis Akhir Hidup Para Tokoh Pentolan PKI!

Mereka dikenal sebagai petinggi atau tokoh Partai Komunis Indonesia. Sejarah mencatat nama mereka dengan tinta hitam karena berbeda ideologi dengan pemerintah yang sah.

Dua kali pemberontakan komunis berakhir dengan kegagalan. Tahun 1948 di Madiun pemberontakan komunis langsung dihancurkan pasukan gabungan tentara Soekarno. Percobaan pemberontakan tahun 1965 pun kembali menemui kegagalan. Kali ini bahkan lebih tragis, jutaan kader dan anggota PKI ditumpas habis Jenderal Soeharto.

Maka nasib para petinggi partai merah ini pun hampir selalu bernasib tragis. Semuanya meregang nyawa ditembus peluru. Beberapa tak diketahui kuburnya.

Tak ada penghormatan untuk jenazah mereka, karena dieksekusi sebagai pemberontak. Pemerintah yang menang menembak mereka sebagai orang taklukan yang kalah.

1. Muso

Negara Republik Soviet Indonesia yang diproklamirkan tokoh komunis Muso di Madiun tak berumur panjang. Negara yang didirikan tanggal 18 September 1948 itu langsung dihancurkan pasukan TNI yang menyerang dari Timur dan Barat. Dalam waktu dua minggu, kekuatan bersenjata tentara Muso dihancurkan pasukan TNI.

Muso, Amir Syarifuddin dan pimpinan PKI Madiun melarikan diri. Di tengah jalan, Amir dan Muso berbeda pendapat. Muso melanjutkan perjalanan hanya ditemani beberapa pengawal.

Tanggal 31 Oktober, pasukan TNI di bawah pimpinan Kapten Sumadi memergoki Muso di Purworejo. Muso menolak menyerah dan melarikan diri. Dia bersembunyi di sebuah kamar mandi. Di sana dia terlibat baku tembak hingga tewas.

Beberapa sumber menyebutkan jenazah Muso kemudian dibawa ke alun-alun dan dibakar.

Amir Syarifudin

Amir Syarifuddin pernah menempati sejumlah posisi penting saat Indonesia baru merdeka. Dia pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan, bahkan Perdama Menteri Republik Indonesia. Tapi hasil perjanjian Renville memutar nasib Amir 180 derajat.

Saat itu Amir menjadi negosiator utama RI dalam perjanjian itu. Isi perjanjian Renville memang tak menguntungkan RI. Belanda hanya mengakui Yogyakarta, Jawa Tengah dan Sumatera. Maka Amir dikecam kiri-kanan. Kabinetnya jatuh. Dia kemudian bergabung dengan Muso dalam Negara Republik Soviet Indonesia di Madiun tanggal 19 September 1948.

Saat pemberontakan Madiun dihancurkan TNI, Amir melarikan diri. Dia akhirnya ditangkap TNI di hutan kawasan Purwodadi. Tanggal 19 Desember 1948, bersamaan dengan Agresri Militer II, Amir ditembak mati bersama para pemberontak Madiun yang tertangkap.
Eksekusi dilakukan dengan buru-buru.

Sebelum meninggal Amir menyanyikan lagu internationale, yang merupakan lagu komunis. Amir juga sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Peluru seorang polisi militer mengakhiri hidupnya.

DN Aidit

Dipa Nusantara (DN) Aidit langsung melarikan diri dari Jakarta saat Gerakan 30 September 1965 gagal. Aidit lari ke daerah basis PKI di Yogyakarta. Aidit lalu berkeliling ke Semarang dan Solo. Dia masih sempat menemui beberapa pengurus PKI di daerah untuk melakukan koordinasi.

Tanggal 22 November 1965, Aidit ditangkap pasukan Brigade Infantri IV Kostrad di kampung dekat Stasiun Solo Balapan. Aidit bersembunyi dalam sebuah ruangan yang ditutup lemari.

Kepada Komandan Brigif IV, Kolonel Jasir Hadibroto, Aidit minta dipertemukan dengan Soekarno. Aidit mengaku sudah membuat pengakuan tertulis soal G30S. Dokumen itu rencananya akan diberikan pada Soekarno.

Tapi keinginan Aidit tak pernah terpenuhi. Keesokan harinya, Jasir dan pasukannya membawa Aidit ke sebuah sumur tua di belakang markas TNI di Boyolali. Aidit berpidato berapi-api sebelum ditembak. Berondongan AK-47 mengakhiri hidup Ketua Comite Central PKI itu. Kuburan pasti Aidit tak diketahui hingga kini.

MH Lukman

Muhammad Hatta Lukman, orang kedua di Partai Komunis Indonesia setelah Aidit. Bersama Njoto dan Aidit, ketiganya dikenal sebagai triumvirat, atau tiga pemimpin PKI. MH Lukman mengikuti ayahnya yang dibuang ke Digoel, Papua. Sejak kecil dia terbiasa hidup di tengah pergerakan. Nama Muhammad Hatta diberikan karena Lukman sempat menjadi kesayangan Mohammad Hatta, proklamator RI.

Tapi seperti beberapa tokoh pemuda Menteng 31 pada tahun 1945, Lukman memilih komunis sebagai jalan hidup. Setelah pemberontakan Madiun 1948, triumvirat ini langsung melejit, mengambil alih kepemimpinan PKI dari para komunis tua. Di pemerintahan, Lukman sempat menjabat wakil ketua DPR-GR.

Tak banyak data mengenai kematian Lukman. Saat itu beberapa hari setelah Gerakan 30 September gagal, Lukman diculik dan ditembak mati tentara. Mayat maupun kuburannya tak diketahui.

Tokoh Politbiro Comite Central PKI Sudisman di pengadilan menyebut tragedi pembunuhan Aidit, Lukman dan Njoto, sebagai 'jalan mati'. Karena ketiganya tak diadili dan langsung ditembak mati.

Njoto

Njoto merupakan Wakil Ketua II Comite Central PKI. Orang ketiga saat PKI menggapai masa jayanya periode 1955 hingga 1965. Njoto juga kesayangan Soekarno. Aidit sempat menganggap Njoto lebih Sukarnois daripada Komunis.

Njoto menjadi menteri kabinet Dwikora, mewakili PKI. Dia salah satu orang yang dipercaya Soekarno untuk menulis pidato kenegaraan yang akan dibacakan Soekarno. Njoto seniman, pemusik, dan politikus yang cerdas.

Menjelang tahun 1965, isu berhembus. Njoto diisukan berselingkuh dengan wanita Rusia. Ini yang membuat Aidit memutuskan akan memecat Njoto. Menjelang G30S, Njoto sudah tak lagi diajak rapat pimpinan tinggi PKI.

Kematian Njoto pun simpang siur. Kabarnya tanggal 16 Desember 1965, Njoto pulang mengikuti sidang kabinet di Istana Negara. Di sekitar Menteng, mobilnya dicegat. Njoto dipukul kemudian dibawa pergi tentara. Diduga dia langsung ditembak mati.

Sama dengan kedua sahabatnya, Aidit dan Lukman, kubur Njoto pun tak diketahui.

Rabu, 27 September 2017

Pemerintah Indonesia Diminta Sediakan Pulau untuk Rohingya. Ini Alasannya!

Organisasi sosial dan kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) meminta pemerintah Indonesia menyediakan pulau untuk menampung para pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan militer di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Presiden ACT Ahyudin mendesak pemerintah berbuat lebih banyak selain mengirimkan bantuan logistik dan pangan darurat dalam membantu etnis minoritas muslim tersebut.

�Bantuan dana dan logistik sudah banyak. Sekarang kami sangat menanti relawan yang ingin berikan pulau untuk terima Rohingya. Pemerintah diharapkan bisa menyikapi serius untuk menyediakan pulau bagi Rohingya,� kata Ahyudin kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (27/9).

Ahyudin menuturkan penyediaan pulau untuk menampung Muslim Rohingya tidak sulit dilakukan. Sebab Indonesia pernah menampung pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Kepulauan Ria, di era 1970-an.

�Dan saya rasa ini bisa dilakukan lagi. Kami minta pulau Galang saja karena infrastruktur di sana sudah siap juga, tinggal digunakan untuk terima pengungsi Rohingya,� kata Ahyudin.

�Mudah-mudahan pemda Kepulauan Riau mau menerima usulan ini, kami sedang coba terus angkat dan diskusikan.�

Ratusan ribu pengungsi Rohingya dilaporkan telah melarikan diri keluar Myanmar sejak krisis kemanusiaan pecah menyusul bentrokan kelompok bersenjata dan militer pada akhir Agustus lalu. Selain itu, diperkirakan 1.000 orang telah tewas akibat gelombang kekerasan tersebut.
Lihat juga: Massa Ekstremis Buddha Serang Pengungsi Rohingya di Sri Lanka

Sebagian besar Rohingya dilaporkan mengungsi ke Bangladesh. Ahyudin menuturkan, sebagai negara berkembang, Bangladesh tidak memiliki kapabilitas yang besar untuk menampung seluruh pengungsi Rohingya.

Di sisi lain, negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar itu terus menerima lonjakan eksodus pengungsi. Ahyudin bahkan memprediksi sampai saat ini sudah ada 1 juta Rohingya yang mengungsi ke negara tersebut.

�Karena itu, sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia juga harus turun tangan dalam hal ini [menerima pengungsi]. Saat ini kan Indonesia hanya menampung sedikitnya 9 ribu pengungsi Rohingya, seharusnya bisa ditingkatkan lagi,� ucap Ahyudin.

sumber : cnn

Senin, 25 September 2017

TELAK! Gatot Akui Pemutaran Film G30S Untuk Memancing Keluar Antek Komunis!

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo mengaku, sengaja ingin memutarkan kembali film G30S PKI. Ia mengatakan, keinginan TNI memutarkan kembali film sejarah kelam kudeta kelompok komunisme itu ?hanya ingin mengingatkan para generasi penerus bangsa.
"Saya katakan bahwa kami punya pengalaman buruk, tiba-tiba berapa jenderal yang dihabisi, maka sistem itu bekerja di TNI sampai saat ini. Biarkan kami seperti ini, kami memancing di air keruh juga (nanti akan) muncul-muncul, kami jadi tahu dengan berbagai cara," kata Gatot usai menggelar acara silaturahmi bersama keluarga besar TNI di Aula Gatot Subroto Mabes

Cilangkap,Jakarta Timur, Jumat (22/9/2017).

Gatot enggan menanggapi adanya kritikan yang menganggap dirinya berpolitik jelang kontestasi Pilpres 2019 dalam pemutaran kembali film G30S PKI itu. ?Ia berharap, pemutaran film G30S PKI dapat mengingatkan agar kejadian kudeta komunisme serupa tidak kembali terjadi di Indonesia.

"Saya mengajak mengingatkan agar tidak terulang kembali. Wong otaknya beda-beda kok. Ya enggak ada masalah. Saya tidak akan pernah menanggapi itu yang penting saya kerjakan," terangnya.

Mantan KSAD itu memaparkan alasan TNI ingin memutar kembali film G30S PKI tersebut. ?Menurut dia, sejak rezim Orde Baru runtuh sudah tidak ada lagi pelajaran sejarah yang membahas kudeta PKI yang sengaja membunuh tujuh jenderal di angkatan darat TNI. Sebab itu, pemutaran film G30S PKI dilakukan agar sejarah kelam tidak kembali terulang.

"Saya adalah yang menyetel itu. Sejak 1998 adalah pelajaran sejarah tentang bangsa ini yang kelam yaitu G30S PKI sudah tidak ada lagi. Terus kalau tidak ada lagi (bagaimana) untuk menginformasikan? Anak tumbuh dewasa dan segala macam itu yang dia diterima akhirnya tidak sadar nanti. Dan sejarah cenderung berulang, kalau berulang kasihan bangsa ini," pungkasnya.(buletinsatu.com/okezone)a

Kamis, 21 September 2017

Stasiun TV One Berencana Tayangkan Film Penumpasan G30S/PKI. Ini Jadwalnya!

Desakan agar ada televisi nasional yang menayangkan kembali film dokudrama propaganda berjudul 'Pengkhianatan G30S/PKI', sepertinya bakal terwujud. tvOne menyampaikan berencana menayangkan film soal sejarah kelam bangsa Indonesia itu.

Rencana itu semula diketahui dari Twitter Partai Golkar @Golkar5 yang menyampaikan bahwa tvOne akan menayangkan film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI pada 30 September, pukul 20.30 WIB.

Juru Bicara Partai Golkar, Nurul Arifin, membenarkan tweet tersebut. "Iya, tadi dikabarin tvOne mau putar," ucap Nurul saat dikonfirmasi kumparan (kumparan.com), Kamis (21/9). 

Meski diumumkan oleh Partai Golkar, Nurul menjelaskan bahwa pemutaran film itu bukan inisiatif Golkar, tapi stasiun televisi bersangkutan. "Bukan inisiatif Partai Golkar ya, tapi tvOne," lanjut Nurul.

Dikonfirmasi terpisah, Pemimpin Redaksi tvOne, Karni Ilyas, membenarkan rencana pihaknya menayangkan film G30S/PKI, yang belakangan ramai dibincangkan dan justru sudah mulai diputar di markas TNI hingga sekolah.

"Memang ada rencana menayangkan, tapi belum ada kepastian," ucap Karny Ilyas yang juga Direktur Pemberitaan tvOne itu.

Namun mengenai tweet Partai Golkar, Karni menjelaskan bahwa program tvOne tidak ada kaitannya dengan Partai Golkar. Begitu juga soal jadwal penayangan film yang dirinci oleh Golkar. 
"Golkar tidak ada hubungan dengan program tvOne," tegas Karni.

sumber : kumparan

Senin, 18 September 2017

AE Kawilarang : Bapak Kopassus yang Konon Pernah Menampar Soeharto!


Banyak pahlawan-pahlawan di negeri ini yang nasibnya tidak mujur. Tidak dimakamkan di taman pahlawan, tidak mendapat bintang jasa bahkan tidak diakui sebagai pahlawan.

Pahlawan juga bukan hanya mereka yang mengangkat senjata melawan penjajah. Banyak pahlawan yang berjasa namun nasibnya tidak sebaik mereka yang yang namanya dikenang dan dimakamkan di tempat terhormat.

Salah satu pahlawan tersebut mungkin adalah Alex Kawilarang. Kolonel (purn) Alex Kawilarang sempat diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional tahun ini. Tapi agaknya belum juga diluluskan pemerintah. 

Alex Kawilarang memiliki peran penting dalam penyusunan organisasi TNI di awal kemerdekaan. Termasuk membangun pasukan elite yang kelak dikenal sebagai Kopassus TNI AD.

Di zaman Belanda, Alex mengikuti pendidikan perwira Koninklijk Militaire Academie (KMA) di Bandung. Sebenarnya KMA Bandung merupakan sekolah perwira darurat karena saat itu Belanda telah dikuasai Jerman dalam perang dunia II. KMA Breda di Belanda pun tutup.

Alex tak lama menjadi perwira Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL), atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Tahun 1942, Jepang keburu masuk dan KNIL dibubarkan. Walau begitu dia tercatat sebagai satu dari sedikit orang Indonesia yang bisa menjadi perwira KNIL.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Alex bergabung dengan TNI. Awalnya dia menjadi perwira penghubung dengan pasukan Inggris. Karirnya terus merangkak naik. Kawilarang dipercaya memimpin ekspedisi TNI menumpas berbagai pemberontakan di hari-hari awal republik. Mulai dari Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), dan Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Pengalaman menumpas berbagai pemberontakan ini yang membuat Kawilarang berpikir perlunya Indonesia memiliki pasukan kecil dengan kemampuan tempur hebat. Kawilarang begitu kagum akan kemampuan musuhnya, pasukan baret merah dan hijau Belanda dari Korps Speciale Troepen. Dia banyak berdiskusi dengan Letkol Slamet Riyadi soal pembentukan pasukan elite ini.

Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar. Nah saat itu Kawilarang melapor pada Presiden Soekarno bahwa kondisi Makassar sudah aman. Tapi Soekarno malah menunjukkan radiogram yang memberitakan Makassar diserang pasukan KNIL.

Kawilarang mencari Komandan Brigade Mataram Letkol Soeharto yang bertugas menjaga Kota Makassar. Dia kesal melihat anak buah Soeharto malah melarikan diri.

"Lelucon apa ini," kata Kawilarang pada Soeharto. "Plak!" Soeharto pun ditampar.

Saat menjabat Panglima TT III/Siliwangi, Kawilarang merintis pembentukan Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwang bulan April 1951. Kesatuan inilah yang kelak menjadi Kopassus.

Walau merintis pasukan elite tersebut, baru tahun 1999 Kawilarang diterima menjadi warga kehormatan Kopassus. Hal ini baru bisa dilakukan setelah Soeharto lengser.

Kawilarang pernah dianggap bersalah telah menyeberang ke pihak PRRI/Permesta yang saat itu memberontak pada pemerintah Jakarta. Tapi Soekarno kemudian mengeluarkan abolisi walau memberikan sanksi pangkat Brigjen Kawilarang diturunkan menjadi Kolonel. Kawilarang kemudian memilih mengundurkan diri dari TNI. Padahal bersama Nasution, Kawilarang banyak memberikan saran dalam membangun TNI.

Saat Orde Baru, hubungan Kawilarang dan Soeharto tetap kurang harmonis. Soeharto rupanya belum lupa pernah ditempeleng. Maka Kawilarang hidup sebagai pengusaha. Dia meninggal 6 Juni 2000, pada usia 80 tahun. Bapak Kopassus ini dimakamkan di taman makam pahlawan Cikutra, Bandung

sumber : merdeka

Inilah Alasan Trio JENDRAL Ini sangat Dibenci Antek-Antek PKI!

Inilah sebabnya kenapa antek-antek komunis di Indonesia begitu membenci Mayjen Kivlan Zein dan Letjen Prabowo Subianto.

(1) AH Nasution, merupakan seorang Jenderal Besar, sebuah gelar kehormatan yang terhormat dalam dunia militer, yang di Indonesia hanya disandang oleh tiga nama. Gelar Jenderal Bintang Lima hanya dimiliki oleh Panglima Besar Soedirman, Abdul Harris Nasution, dan HM Soeharto.

Salah satu korban yang selamat dari peristiwa G30S/PKI, adalah Jenderal Abdul Haris Nasution. AH Nasution selamat saat hendak diculik, sementara putrinya Ade Irma Suryani (5 tahun) dan ajudannya Lettu Pierre Tendean, tewas menjadi korban.

AH Nasution berhasil meloloskan diri kemudian mengirimkan pesan khusus kepada Soeharto di Markas Kostrad. Akhirnya kudeta G30S/PKI berhasil digagalkan dan ditumpas. Seandainya AH Nasution berhasil diculik dan dibunuh, maka sempurnalah rencana kudeta G30S/PKI, dan kita tak tahu bagaimana jadinya Indonesia.

Oleh karenanya, Jenderal Besar AH Nasution selalu mengingatkan bahaya laten PKI yang mulai bangkit kembali pasca reformasi 1998. Dalam keterangan resmi AH Nasution yang disampaikan Bakrie Tianlaen yang didampingi Husni Thamrin tanggal 26 April 1999, AH Nasution sudah mengingatkan:

"Akhir-akhir ini di berbagai mass media, baik cetak maupun elektronik, memuat berbagai wawancara dari beberapa tokoh yang dulunya terlibat G30S/PKI dari sudut pandang mereka. Dari pembicaraan mereka, seolah-olah tidak merasa bersalah atas tindakan mereka di masa lalu. Yang sangat memprihatinkan adalah hasil wawancara itu dilansir begitu saja tanpa berusaha untuk mempelajari terlebih dulu apa yang pernah dilakukan oleh mereka. Dengan pemberitaan tidak mendasar itu, bagi orang awam atau generasi yang tidak mengalami itu dapat membawa dampak bagi pola pikir mereka, bahkan bila kurang waspada dapat terbawa dalam alur pola pikiran yang seharusnya perlu dijauhi."

"Mereka seakan-akan tidak merasa bersalah, bahwa mereka melakukan pembunuhan terhada para Jenderal AD yang dimasukkan dalam sumur Lubang Buaya. Saya membaca dalam salah satu surat kabar Ibu Kota, bahwa mereka telah membentuk Yayasan Korban 1965 - 1966, untuk melakukan penelitian atas korban peristiwa 1965. Bahkan, katanya akan menuntut Jenderal Soeharto."

Apa yang disampaikan AH Nasution kini makin terlihat nyata gerakan dan upaya mereka pada era sekarang. Bahkan yang selalu ceramah mewaspadai bangkitnya PKI ditangkap. Yang menentang upaya terselubung membangkitkan PKI digebuki. Tanya kenapa.

(2) Letnan Jenderal Prabowo Subianto, dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Jenderal Nasution. Sebagai junior, Prabowo tak pernah merasa lupa terhadap Nasution. Menurut berbagai catatan, Prabowo adalah satu-satunya orang luar selain anggota keluarga yang diundang secara khusus oleh AH Nasution menjelang akhir hayatnya.

Maka tak heran, antek-antek dan anak cucu PKI paling benci dengan Prabowo. Mereka akan bergabung bersama lawan Prabowo untuk menjegal jangan sampai menjadi RI-1 karena akan menghalangi upaya mereka melanjutkan 1965 yang dulu gagal.

(3) Mayor Jenderal TNI Kivlan Zen adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia pernah memegang jabatan Kepala Staf Kostrad ABRI setelah mengemban lebih dari 20 jabatan yang berbeda, sebagian besar di posisi komando tempur. Kivlan Zein kini menjadi target antek-antek PKI karena kegigihannya menentang bangkitnya PKI. Pernah ditangkap dengan tudingan makar saat menjelang Aksi 212.

ITULAH TRIO JENDRAL YANG SANGAT DIBENCI ANTEK-ANTEK PKI YANG HENDAK BANGKIT KEMBALI.

Sebagai pengingat kekejian PKI, cukuplah kita mengenang Ade Irma Suryani Nasution.

Ade Irma Suryani Nasution (lahir 19 Februari 1960 � meninggal 6 Oktober 1965 pada umur 5 tahun) adalah putri bungsu Jenderal Besar Abdul Harris Nasution. Ade terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September yang berusaha untuk menculik Jenderal Besar AH Nasution.

BELUM CUKUP'KAH Ade Irma putri mungil & cantik Jenderal AHNasution jadi korban terakhir PKI???

Tentang Nonton Bareng Film G30S/PKI, Panglima TNI: Itu Perintah Saya, Mau Apa?

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo rupanya tidak ambil pusing atas polemik pemutaran film G30S/PKI di lingkup internal institusinya. Dia menegaskan acara nonton bareng film kontroversial itu memang perintahnya.

"Iya itu memang perintah saya, mau apa? Yang bisa melarang saya hanya pemerintah," kata Jenderal Gatot saat ditemui seusai ziarah di Makam Bung Karno (MBK), Bendogerit, Blitar, Senin (18/9/2017).

Gatot menyatakan Mendagri sudah mengizinkan dia memerintahkan seluruh anggotanya menonton film garapan era Orde Baru tersebut. Saat ditanya mengenai materi film itu masih menjadi polemik, Gatot mengatakan menonton film tersebut merupakan upaya meluruskan sejarah.

"Biarin aja, saya nggak mau berpolemik. Ini juga upaya meluruskan sejarah. Saya hanya ingin menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena anak-anak saya, prajurit saya, masih banyak yang tidak tahu," jelasnya.

Menurut Gatot, bahkan Presiden Sukarno sendiri pernah memberi pesan untuk tidak melupakan sejarah. "Sejarah itu jangan mendiskreditkan. Ini hanya mengingatkan pada anak bangsa, jangan sampai peristiwa itu terulang. Karena menyakitkan bagi semua pihak. Dan korbannya sangat banyak sekali," ucapnya.

Rencana TNI menggelar acara nonton bareng film G30S/PKI memang menjadi polemik. Ada yang menilai film itu tak pantas ditonton lagi. Namun ada juga yang mendukung rencana TNI sebagai upaya mengingatkan sejarah kelam bangsa ini. 

sumber : detik

Sabtu, 16 September 2017

TEGAS! Polisi Bubarkan Seminar Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66�. Ini Alasannya!


Seminar sejarah �Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66� yang dilaksanakan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Pusat, Sabtu (16/9/2017) harus dibubarkan oleh pihak kepolisian.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, mengungkapkan alasan pembubaran tersebut. Pasalnya, acara itu tidak memiliki izin.

"Seandainya mengumpulkan banyak orang kemudian berkegiatan tanpa memberikan pemberitahuan atau izin kepolisian ya kami berhak dibubarkan, jadi belum ada dari panitia kepada kepolisian," kata Argo saat ditemui di Kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (16/9/2017).

Lebih dalam, Argo menjelaskan setiap kegiatan yang mengumpulkan massa, panitia seharusnya memberitahukan kepada kepolisian seperti dalam Undang-undang (UU) berkegiatan di muka umum.

"Di Undang-Undang sudah jelas toh, di UU penyampaian pendapat No. 8/98 kalau tidak ada pemberitahuan kepada kepolisian wajib dibubarkan," papar Argo.

Dalam hal ini, dikatakan Argo jajarannya telah melakukan komunikasi dan kordinasi dengan panitia penyelenggara acara tersebut. Menurutnya, setelah berdiskusi akhirnya disepakati untuk acara tersebut tidak dilanjutkan.

Dituduh Provokator Soal PKI, Jawaban Mayjen (Purn) Kivlan Bikin TERNGANGA!

Kontroversi seputar kebangkitan Komunis semakin heboh, mulai dari penyebutan pengalihan isu, provokator, dan banyak lagi serangan yang seolah mereka terbaik dan paling benar, semua terkait peran saya untuk mewaspadai hal tersebut bersama dengan para Purnawirawan-purnawirawan dan juga ormas-ormas yang keluarganya pernah merasakan Kekejaman dan Kebengisan PKI bersama pengikutnya, baik pada tahun 1948 sampai dengan 1965 yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya polemik di tengah-tengah masyarakat.

Mulai dari pro maupun kontra terhadap peran saya bahkan sampai-sampai ada yang membully saya, namun dengan demikian, dengan adanya bully tersebut saya hanya senyum-senyum gimana gitu sambil tertawa kecil karena inilah demokrasi, walaupun sampai-sampai anak dan istri saya prihatin, sedih, marah melihat Bapaknya di bully dan di fitnah habis habisan.

Namun dengan begitu saya sangat bersyukur karena ketika kebaikan muncul akan ada saja kedjoliman-kedjoliman yang muncul entah dari mana saja rimbanya dan pastinya dibalas dengan kebaikan karena ketika saya di djolimi dan juga munculnya fitnah-fitnah yang ada pada saat itu juga masih banyak yang membela saya.

Diantara pernyataan yang mencoba menyinggung saya menyebutkan
"Sayang namanya sudah baik ketika membebaskan awak kapal Indonesia yang di sandera di Filiphina, kok mau maunya meributkan PKI".

"Provokartor", yang lebih lucunya lagi sangat banyak dari mereka mencoba membangitkan permasalahan pada tahun 1999 terkait pernyataan Gusdur tentang Mayjen K sebagai dalang kerusuhan Ambon. Padahal masalah itu sudah clean and clear saya bukan dalang dan provokator Ambon. Dari sini saja dapat di ambil kesimpulan kecil dan sederhana yaitu mereka tidak tahu kejadian, kronologi, bahkan permasalahan namun mencoba memaksakan pendapat atau pandangannya tanpa melihat aspek-aspek yang ada.

Ingat!!!
Tidak ada niat jahat apapun, niat hanya Lillahi Ta'ala dan menyelamatkan Bangsa.

Peringatan buat para Hatter-hatter yang ingin mencari panggung dengan upaya-upaya yang menurutnya bisa mendobrak popularitas juga mencoba mencari perhatian orang-orang yang dia bully, sungguh kasihan, inilah Maling teriak Maling.

Hanya sedikit informasi bagi hatter-hatter bahwa Saya selalu berusaha untuk berbuat dan beramal untuk keselamatan Indonesia walaupun kini saya sudah pensiun sekian lama begitupun dengan jenderal-jenderal yang lain. Kami tidak perlu panggung lagi karena sudah punya panggung dan berperan menyelamatkan bangsa indonesia atau ada bahasa lain yang di sampaikan seperti cari muka, buat apa???lah wong sudah punya muka kok.

Jika jumlah kecil yang hanya 14 orang tersandera kemarin saja saya terlibat untuk menyelamatkan mereka, apalagi saat ini dengan jumlah sangat besar yang mencapai ratusan juta anak Bangsa terhadap kebangkitan Komunis yang telah melakukan kebiadapan dan kebengisan sehingga mengakibatkan para Jenderal-jenderal, Ulama-ulama dan Umat Muslim serta Tokoh-Tokoh Masyarakat TERBUNUH.

Ingat tidak jargon "The Old Soldier Never Die"??? Kehidupan saya, saya dedikasikan untuk Bangsa dan Negara Ini.

Maaf bukan ingin sombong atau menyombongkan diri, ingin dipuji tapi hanya sekedar ingin memberitahu kepada orang-orang jika ada yang mengkritik saya tekait keadaan dan situasi negara ini, apa yang sudah mereka berikan???

Sekarang saya coba sampaikan sebagian bukti dedikasi saya untuk Bangsa dan Negara ini. Agar orang-orang yang nyinyir terhadap saya bisa faham atas dedikasi saya selama ini.

1. Pada tahun 1973 saya terlibat dalam Pembebasan Sandera di Papua dimana Sanderanya yang merupakan seorang Bupati di salah satu kabupaten yang ada di Papua.

2. Pada tahun 1977 Pembebasan Pasukan yang terkepung di Illaga, Mulia, Piramid, Wamenna di Papua. Pada kesempatan itu saya mendapat kenaikan Pangkat Luar Biasa, yaitu dari Kapten ke Mayor

3. Pada tahun 1981 juga masih dalam Pembebasan Sandera yang mana Sanderanya merupakan seorang WNA asal Malaysia.

4. Pada tahun 1982 saya Sekolah ke Amerika bersama SBY.

5. Pada tahun 1985, 1986, 1987 saya berprestasi di Timtim, bahkan pasukan saya yang sudah terlatih tersebut saya berikan kepada Prabowo hanya demi menjaga keutuhan NKRI pada saat itu. Pada saat itu saya mendapat kenaikan pangkat luar biasa untuk kedua kalinya yaitu dari Mayor ke Letkol.

6. Pada tahun 1995-1996 saya sukses mendamaikan Moro National Liberation Front (MNLF) dengan pemerintah Filiphina. Pada saat itu saya mendapatkan kembali kenaikan pangkat, namun kali ini sangat sangat luar biasa yaitu dari Kolonel yang hanya satu tahun langsung menjadi Brigjen.

7. Pelepesan 15 kapal ikan indonesia milik PT Jayanti yang baru di beli dari china kemudian tertangkap dan di tahan oleh AL Filiphina Selatan.

8. Pada bulan Mei tahun 1998 mengamankan jakarta dari kerusuhan bersama ABRI lainnya dengan hasil misi yang berhasil hanya dengan tempo 3 hari.

9. Masih pada tahun yang sama yaitu bulan November tahun 1998 mengamankan MPR RI dari serbuan masa yang anti Sidang Istimewa dan dicurigai pergerakan itu di gerakkan oleh Anasir Komunis yang akan membunuh anggota MPR dan juga Presiden Habibi kala itu dan moment itu di kenal dengan Pamswakarsa.

10. Pada tahun 1999 mengamankan MPR RI dari serbuan masa PDIP karena saat itu Megawati tidak terpilih jadi Presiden.

11. Dan yang paling hangat lagi, Atas rencana Mabes TNI dan Bais, Jenderal tua ini masih mau membaktikan dirinya dengan taruhan nyawa demi membebaskan sandera di Filiphina Selatan. Sampai saat ini tidak satupun penghargaan dan ucapan terima kasih dari presiden kepada saya, dan saya tidak Membutuhkan dan Mengaharapkan karena yang saya lakukan hanya demi kemanusiaan dan Lillahi Ta'ala.


Sekarang karena bangsa dan negara terancam lagi, maka saya terpanggil lagi bersama para Jenderal tua lainya dan beberapa elemen Ormas yang peduli NKRI dalam menghadapi Komunis Gaya Baru yang di sebutkan oleh para hatter-hatter saya dan katanya di rancang oleh pemerintah bersama para jenderal para pendukung jokowi.

para hatter sebenarnya sudah berbuat apa sih???

Dalam hal-hal yang saya sebutkan terkait diri saya, perlu di ingat itu bukan untuk pamer ya!!! atau ingin membanggakan diri namun hal tersebut hanya untuk jadi pembelajaran bagi orang-orang yang suka nyinyir dan tidak membully orang seenak jidadnya, dan itupun kalau mereka mau berfikiran positif.*

___
*Sumber: fb Kivlan Zein

Jumat, 15 September 2017

KEREN..! Inilah Siasat Jitu Jendral Gatot Bongkar Korupsi Helikopter Senilai 220 M !

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dibantu KPK tengah mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan helikopter AW101. Untuk sementara diduga kerugian mencapai Rp 220 miliar.

Polisi Militer menetapkan tiga tersangka. Pertama Masma TNI berinisial FA sebagai pejabat pembuat komitmen, Letkol TNI berinisial WW sebagai pejabat kas, dan SS sebagai staf pejabat kas yang diduga membagikan dana.

Jenderal Gatot Nurmantyo membeberkan awal mula kasus ini. Pertama dia dipanggil oleh Presiden Jokowi terkait kasus pengadaan helikopter Augusta Westland 101 ini. Presiden Jokowi sudah menolak pengadaan AW101 sebagai pesawat kepresidenan, namun kenapa heli ini tetap tiba di Lanud Halim Perdanakusuma.

"Setelah itu presiden bertanya ke saya. Kira-kira kerugian negara berapa bapak panglima? Saya sampaikan ke presiden kira-kira minimal Rp 150 miliar. Presiden menjawab, menurut saya lebih dari Rp 200 miliar, bayangkan panglima sampaikan itu tapi presiden lebih tahu kan malu saya," kata Jenderal Gatot Nurmantyo di KPK, Jumat (26/5).

Gatot segera mengusutnya. Kepala Staf TNI AU yang baru, Marsekal Hadi Tjahjanto juga langsung diminta mengusut kasus yang jadi perhatian publik ini. 

"Dengan bekerja cepat maka pada 24 Feb 2017, KASAU mengirimkan hasil investigasi. Dari hasil investigasi KASAU semakin jelas, ada pelaku-pelaku korupsi dan konspirasi," kata Gatot.

Dari laporan tersebut Gatot dan Hadi bergerak menggandeng KPK, BPK dan PPATK. Untuk mengelabui para tersangka, TNI juga sampai menyebut pengadaan helikopter tak bermasalah. Padahal ini disengaja oleh Gatot.

"Ini sebenarnya teknik untuk mengelabuhi para calon tersangkanya sehingga mereka enjoy. Ah tidak ada masalah," beber Gatot.

POM TNI dibantu KPK terus bergerak. Mereka menggeledah empat lokasi yakni PT Diratama Jaya Mandiri, rumah saksi di Bogor, rumah saksi di Sentul, dan sebuah kantor di Bidakara. 

Selain itu, masih dalam rangkaian penyidikan pihaknya juga telah memblokir PT Diratama Jaya Mandiri sebesar Rp 139 miliar. Gatot menegaskan akan mengusut tuntas kasus ini.

"TNI meningkatkan penyelidikan ke penyidikan. TNI sudah dapat informasi awal bahwa minimal ada penyimpangan mark up sekitar Rp 220 Miliar," tegas Gatot.

Sumber : merdeka

Senin, 11 September 2017

MENGEJUTKAN.! Habibie Ungkap Fakta Sebenarnya Mengapa Dulu IPTN "Dihabisi"!

Ada fakta menarik yang diungkapkan Presiden ketiga RI Prof Dr Ing BJ Habibie tentang IPTN.

Sebagai seorang ilmuwan, Habibie tidak mau berpolitik. Namun riset dan teknologi tidak bisa berkembang tanpa ada political will.

"Saya bisa survive di tengah politik. Gara-gara politik juga, perusahaan IPTN yang berisi pemuda-pemuda terbaik bangsa dihabisi," kata Habibie dalam dialog di Gedung MPR RI.

Dia menceritakan, saat ada pembahasan mengenai nasib IPTN dengan IMF, dirinya tidak pernah dilibatkan.

Presiden Soeharto hanya memanggil para ekonomnya dan tidak meminta pendapat Habibie.

"Saya kaget saat dikasi tahu tidak ada dana lagi untuk membiayai IPTN dan harus dibubarkan. Namun, saya katakan kepada presiden, saya bisa mendapatkan dananya dan berhasil IPTN bisa selamat," tuturnya.

Sayangnya, di era reformasi IPTN benar-benar ditutup. Mereka lupa perusahaan itu berkaitan dengan manusia.

Banyak ahli pesawat kita bekerja di luar negeri karena di Indonesia, pemerintahnya tidak mendukung industri pesawat terbang.

"Sekarang Indonesia buat pesawat N219. Padahal 50 tahun lalu Indonesia sudah buat itu, cuma namanya CN212. Indonesia bahkan sudah membuat N250. Sayangnya industri dirgantara dihabisin karena sekelompok orang yang ingin mencari keuntungan dengan cara impor. Dan, saya tahu siapa-siapa orang di balik itu," tandasnya.


sumber : jppn

Jumat, 01 September 2017

Muncul Ormas Mirip TNI, Inilah Respon TEGAS Kodam I/Bukit Barisan.!

Beberapa hari ini muncul sejumlah foto salah satu organisasi masyarakat (ormas) yang pakaian dan seragamnya mirip dengan atribut Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Beberapa pria yang konon tergabung dalam ormas Perintis Kemerdekaan Indonesia (PKRI) dan Penerus Pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia (PPKRI) tampak berfoto menggunakan baret lengkap mirip TNI.

Menyikapi beredarnya foto anggota ormas beratribut mirip TNI ini, Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Edi Hartono, mengimbau seluruh masyarakat, khususnya di Sumatera Utara, lebih berhati-hati agar tidak mudah tertipu.

Biasanya, kata Edi, ormas-ormas yang atributnya mirip TNI kerap menyalahgunakan penampilannya untuk menipu masyarakat.

"Kepada masyarakat, jika melihat ada orang yang mengenakan atribut mirip TNI sebaiknya diyakinkan betul-betul apakah dia itu benar anggota atau bukan. Jangan sampai masyarakat terkecoh karena seragam yang hampir sama persis," ungkap Edi kepada Tribun Medan, Selasa (18/7/2017).

Edi mengatakan, ormas yang menggunakan atribut mirip TNI sangat mudah sekali mengecoh masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di tempat-tempat terpencil.

Dari kejauhan, kata Edi, memang seragam ormas PKRI dan PPKRI itu sangat mirip sekali dengan atribut TNI.
"Kalau personel Kodam itu kan jelas. Di baju dinasnya ada logo Kodam dan tempat kesatuannya masing-masing," ungkap Edi.

Ia meminta kepada semua ormas untuk tidak meniru-niru pakaian maupun seragam TNI. Masih banyak warna atau identitas lain yang bisa digunakan ormas untuk mengembangkan organisasinya.

"Enggak usahlah pakai-pakai atribut yang mirip TNI. Saya rasa, masih banyak warna lain yang bisa digunakan sebagai ciri satu organisasi," beber dia.

Di media sosial, foto anggota PKRI dan PPKRI sempat dikaitkan dengan salah satu kader partai tertentu yang baru saja mengikuti kegiatan bela negara.

Minggu, 20 Agustus 2017

Sunguh Terlalu, Gambar Bendera Indonesia juga Terbalik di Koran Malaysia!

Setelah insiden di buku panduan SEA Games Kuala Lumpur 2017, gambar bendera Indonesia Merah Putih juga tercetak terbalik di koran harian Metro edisi hari ini.

Di halaman 32 koran itu yang bertajuk Mencari Jagoan, isinya ulasan mengenai negara-negara yang tampil di ajang SEA Games tahun ini. Di bagian tengah halaman tersebut ditampilkan gambar bendera negara-negara peserta kompetisi olahraga se-Asia Tenggara dan bendera Indonesia Merah Putih tercetak terbalik.

Kemarin Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menyesalkan gambar bendera Indonesia yang dicetak terbalik di buku panduan SEA Games. Imam memajang foto buku itu di akun media sosial Twitter dan sejak itu netizen ramai-ramai mengecam hingga tagar #ShameonYouMalaysia menjadi topik paling banyak dibahas.

Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Khairy Jamaluddin tadi malam langsung meminta maaf atas insiden bendera Indonesia Merah Putih yang tercetak terbalik di buku panduan SEA Games Kuala Lumpur 2017.

Pernyataan Khairy itu menanggapi cuitan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi kemarin di media sosial Twitter yang menyesalkan terbaliknya gambar bendera Indonesia itu.

"Bapak Imam, mohon terima permohonan maaf saya atas kejadian ini. Sesungguhnya tiada niat jahat. Saya amal kesal dengan kesilapan ini. Mohon Maaf," kata Khairy di Twitternya, seperti dilansir Channel News Asia, Minggu (20/8)

sumber : merdeka

Sabtu, 19 Agustus 2017

Mantan Ajudan Ir. Sukarno: Saya Melihat Sukarno Coba Dibunuh Berkali-kali!

Bukan rahasia lagi jika Ir. Sukarno, bapak proklamator kemerdekaan Indonesia pernah beberapa kali berhadapan dengan maut. Tak hanya sekali dua kali, sejak era perjuangan melawan pemerintah Belanda hingga menduduki tampuk kepemimpinan, nyawanya selalu dalam ancaman. Memasuki era 1950-an, frekuensi ancaman-ancaman ini semakin tinggi sehingga saat itu ia dirasa perlu mendapat pengawalan pribadi yang lebih ketat. Seperti kisah yang dituturkan oleh Kolonel (Purn) H. W. Sriyono yang bertindak sebagai staf ajudan Sukarno ini.

Kolonel (Purn) H. W. Sriyono merupakan salah seorang yang berada di lingkaran pengamanan Sukarno. Ia dipilih pada 1952 untuk melaksanakan tugas-tugas secara fisik serta pengamanan untuk Sukarno. Demikian sebagaimana dilansir dari liputan CNNIndonesia.com, Kamis (17/8/2017).

�Jadi kalau ke mana Bung Karno pergi, mereka mengadakan advance dulu, tujuan Bung Karno ke mana, kami datengin dulu, kami cek tempat yang akan dipakai, acara, siapa penanggungjawabnya, dan persiapan makan-makannya. Lalu, sampai tidur. Ya, persiapan tempat tidurnya dan sebagainya itu semua kami cek. Kalau sudah merasa aman dan kami yakin akan aman, baru kami laporkan ajudan. Jadi, bisa presiden dibawa ke situ,� papar pria yang sudah berusia 87 tahun itu di Gedung Wira Purusa LVRI DKI Jakarta.

Jumat Durjana�Dilempar Granat

Ada beberapa usaha pembunuhan yang sangat diingat oleh Sriyono sewaktu masih menjadi staf ajudannya sejak usia 22 tahun. Peristiwa pertama yaitu pelemparan granat di Sekolah Dasar Cikini yang dikenal dengan sebutan Jumat Durjana. Saat itu Sukarno sedang melakukan inspeksi atau kunjungan ke SD Cikini, sekolah tempat putri kandungnya, Megawati Soekarnoputri, belajar.

�Kalau namanya saya masih ingat yaitu Saadon dan Tasrif dari kelompok organisasi yang ekstrem kanan, tapi Alhamdullilah Bung Karno tidak sampai meninggal, terkena sedikit pun tidak, tapi anak pelajar banyak yang kena, ada yang sampai meninggal,� kenang Sriyono.

Penembakan AURI

Peristiwa selanjutnya yakni terjadi di dalam Istana Presiden. Ada penembakan dari pesawat militer dari AURI, Letnan Daniel Maukar. Peristiwa itu terjadi kurang lebih pukul sebelas siang. Biasanya, menurut Sriyono, pada jam-jam itu Bung Karno turun dari ruangan kerja ke ruangan makan.

�Tapi kebetulan hari itu beliau tidak turun untuk makan siang. Ruang makan tersebut pun habis ditembaki dari atas, tetapi Bung Karno selamat karena tidak ada di tempat,� ungkap Sriyono.

DI/TII

Pada perayaan Idul Adha pun usaha pembunuhan masih terus terjadi. Saat sedang mengadakan salat Idul Adha, ada simpatisan DI/TII yang mengeluarkan senjata dan langsung menembak ke arah Sukarno dari belakang. Meski ancaman datang dari jarak hanya 5-6 meter, Bung Karno tidak terluka sama sekali karena tembakan meleset. Hanya saja, peluru mengenai bahu imam Salat Id yang juga Ketua DPR saat itu, Zainul Arifin.

Orator Ulung

Sriyono, pria yang sudah berjuang sejak umur 14 tahun ini menuturkan bahwa Bung Karno merupakan seorang pemimpin yang merakyat. Sukarno selalu mendengarkan dan memerhatikan suara-suara rakyat. Menurut Sriyono, setiap sore, saat belum ada pengamanan yang cukup ketat, Bung Karno sering jalan-jalan ke Daerah Sawah Besar sembari menyapa rakyatnya.

Sriyono terkesan dan kagum ketika Bapak Bangsa ini menyampaikan pidato untuk rakyatnya. Sriyono menyebutkan, setiap Bung Karno pidato, semua rakyat ingin mendengarkan pidato beliau. Bahkan, ketika berpidato di radio pun, tukang becak berhenti untuk mendengarkan.

�Kalau kunjungan ke daerah-daerah sampai-sampai ibu-ibu itu meminta, �Mana bekas minumnya Bapak?�. Semua berebut kepingin punya anak seperti Bung Karno, itu bukan politik hanya pengalaman sehari-harinya saja,� kata Sriyadi menceritakan kekagumannya pada Bung Karno.

Selain itu, cara Bung Karno memberikan perintah kepada bawahannya seperti panggilan antara anak dan orang tuanya, tidak membeda-bedakan kedudukan dan pangkat seseorang.

�Kewibawaan Bung Karno, kalau sudah bilang diam, semua diam. Tidak ada yang menyulut lagi,� papar Sriyono.

Rapat Raksasa di Lapangan IKADA

Ia pun mengenang peristiwa 19 September 1945, atau Rapat Raksasa di Lapangan IKADA. Di sana Sukarno membius ribuan orang dengan orasinya soal kemerdekaan Indonesia. Bagi Sriyono, meski tak menyaksikan langsung, peristiwa ini punya makna penting karena setelah proklamasi 17 Agustus, ia merasakan rakyat Indonesia sebenarnya belum sungguh-sungguh percaya negara sudah merdeka. Di lapangan IKADA itulah Sukarno berhasil meyakinkan mereka�bahwa pemerintahan memang benar ada dan siap mempertahankan kemerdekaan.

�Rakyat ini kan ingin tahu apakah Jepang masih berkuasa. Ada ribuan rakyat berkumpul di lapangan menunggu, tentara Jepang sudah siap semua di situ. Begitu Bung Karno datang, dia ngomong �Kalau masih percaya sama saya sekarang juga dengan tertib, aman, pulang.� Lalu mereka pulang semua. Padahal rakyat itu ribuan, kepingin tahu apa yang terjadi. Itu wibawanya seperti itu yang kami rasakan di mana-mana,� beber Sriyono.

Rapat besar IKADA sendiri hanya berlangsung beberapa menit karena Sukarno meminta rapat dibubarkan dan rakyat mempercayakan hal-hal terkait pelaksanaan kemerdekaan pada pemerintah.

Kini, 72 tahun berselang setelah proklamasi, berpuluh-puluh tahun setelah Sriyono mengawal Sukarno, ia masih ingat benar semangat yang mendorongnya untuk berjuang demi kemerdekaan: menciptakan satu keadilan, kenyamanan ketentraman, bagi bangsa dan negara.

Di mata Sriyono, selama 350 tahun Indonesia dijajah, tidak ada perubahan tata hidup bagi rakyat sehingga perlu bangsa Indonesia mengatur dirinya sendiri.

Harga Mahal untuk Sebuah Kemerdekaan

Sriyono menekankan kepada generasi muda bahwa kemerdekaan ini tidak didapat dengan mudah, atau gratis. Ia pun meminta generasi muda mengisi kemerdekaan ini agar menciptakan negara yang adil, makmur, aman, dan tentram. Ia juga berpesan agar generasi muda tidak melupakan sejarah karena sejarah merupakan jati diri bangsa. Begitu pula dengan dasar negara ini yaitu Pancasila.

Baca juga: Bikin Haru! Veteran 93 Tahun Ini Bagikan Kisah Perjuangannya Melawan Penjajah Bersama Jenderal Ahmad Yani

�Pancasila jangan jadi satu dasar negara saja, tetapi harus dijadikan satu kehidupan bagi Bangsa Indonesia. Setiap warga Indonesia harus berjiwa pancasila, apapun dia agamanya, apapun dia sukunya,� pungkas Sriyono.

sumber : suratkabar

Senin, 31 Juli 2017

Diributkan, Patung Panglima Perang China di Klenteng Tuban Melebihi Jendral Sudirman!

Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) mengecam keras didirikannya patung Jenderal Perang Cina, Kwan Sing Tee Koen yang tingginya 30,4 meter yang berada di klenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur.

Hal itu disampaikan Presiden Geprindo Bastian Simanjuntak melalui ketera gan pers yang diterima Swamedium.com, Sabtu (29/7).

Menurut dia, pendirian patung tersebut lebih besar muatan politisnya daripada nilai-nilai keagamaannya.

�Untuk apa bangun patung jendral perang cina di Tuban besar-besar. Untuk gagah-gagahan? Tolong diingat! Ini negara Indonesia, didirikan oleh bangsa Indonesia, dimiliki dan dikuasai oleh Bangsa Indonesia!,� tegas Bastian.

Oleh karena itu, menurutnya, tidak boleh ada bangsa lain yang merasa memiliki kuasa di republik ini dengan mendirikan patung jenderal perang dari sebangsanya.

�Bangsa Indonesia tidak mengenal panglima perang yang bernama Sing Tee Koen, panglima perang bangsa indonesia adalah panglima besar Jenderal Sudirman,� tandas Bastian.

�Saya mencurigai ada maksud lain dibalik pendirian patung sebesar itu, oleh karena itu sebaiknya Badan Intelijen Indonesia (BIN) harus turun tangan mengumpulkan informasi apa alasan sebenarnya dibalik pendirian patung sebesar itu!,� imbuh Bastian.

Geprindo juga mendesak BIN untuk bisa mengungkap ada tidaknya aliran dana dari negara komunis Cina pada pembangunan patung itu.

Geprindo meyakini, rakyat Indonesia sangat paham, negara Cina memiliki kepentingan strategis terhadap Indonesia.

Bastian menyebut ada rencana menghidupkan kembali jalur sutra melalui pembangunan proyek-proyek infrastruktur, pengakuisisian tambang energi dan mineral, perkebunan, ada pembelian hunian oleh warga Cina di pulau reklamasi dan meikarta, ada proyek kereta api cepat, ada pencurian ikan, penyelundupan narkoba, kejahatan IT dan banjirnya produk-produk cina di pasar Indonesia

Belum lagi, tambah Bastian, di Taman Mini telah dibangun patung laskar tionghoa, dan sekarang di Tuban dibangun patung jenderal perang cina.

�Kedepan mau bangun patung apalagi? Saya khawatir jika hal ini dibiarkan terus menerus oleh pemerintah Indonesia, bangsa Cina semakin besar kepala dan tidak menghormati Bangsa Indonesia,� tukasnya.

Untuk itu, Geprindo meminta Pemerintah harus segera bertindak dengan menerbitkan peraturan yang tidak memperbolehkan pembangunan simbol-simbol bangsa lain di Indonesia yang bisa menimbulkan rasa nasionalisme asing.

Selain itu, Geprindo mengingatkan BIN, TNI, Polri jangan sampai kebobolan. Bastian mengatakan, jika di kota saja tidak bisa mendeteksi ancaman asing, bagaimana mencegah ancaman di pulau-pulau terluar?


Padahal, Bastian melanjutkan, Panglima TNI berkali-kali berpidato tentang perang asimetris dan perang proxi. Namun, ia mempertanyakan, mengapa patung jenderal perang Cina setinggi 30 meter tidak dianggap sebagai ancaman kedaulatan.

�Coba kita pikir, bolehkah kita mendirikan patung jenderal Sudirman setinggi 30 meter di Cina sana?,� tanya dia.

Sebagai tindakan konkret, Geprindo akan mengirimkan surat kepada pengurus klenteng tersebut agar segera menurunkan patung raksasa tersebut. Sebab, Geprindo berpendapat, keberadaan patung sebesar itu bisa mengecilkan bahkan menghilangkan jasa para pahlawan bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan maupun pra kemerdekaan.
***
Petung Dewa Perang Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen yang berada di Klenteng Tuban tidak memiliki ijin resmi bangunan dari Pemkab Tuban. Sehingga petung yang telah meraih rekor Muri dengan ketinggian 30,4 meter terancam dibongkar karena masih ilegal.

�Sejauh ini pendirian patung itu tidak ada ijin dari Pemkab Tuban, sehingga masih ilegal,� jelas H. Miyadi, Ketua DPRD Tuban, Senin, (31/7/2017).

Patung dewan itu dibangun dengan biaya sekitar Rp 1,5 miliar dari salah satu donatur asal kota Surabaya. Dalam proses pendirian patung itu sempat dilarang oleh Pemkab Tuban dan dihentikan, tetapi pengurus Klenteng masih nekat meneruskan hingga ada peresmian patung.

Kondisi seperti membuat dewan meradang, sehingga dalam waktu dekat anggota komisi A DPRD Tuban diagendakan akan melakukan kunjungan kerja di Klenteng Tuban. Hal itu untuk memastikan dokumen pendirian patung dewa itu.

�Kita telah mengagendakan untuk Komisi A meninjau lokasi, karena sejauh ini ijin mendirikan patung belum ada,� jelas Ketua DPRD Tuban.

Lebih lanjut, setelah nanti dilakukan kunjungan, hasil kunjungan kerja dewan akan disampaikan kepada eksekutif. Terkait Sanksi atas bangunan itu menunggu kebijakan dari pihak eksekutif.

�Sanksi rekomendasi terkait berdirinya bangunan itu menunggu sikap dari Bupati, apakah nanti bangunan di robohkan atau yang lainnya. Itu menunggu kebijakan eksekutif,� tegas Ketua DPRD Tuban.

Kekecewaan yang sama juga di sampaikan Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein. Ia mengaku pernah melarang proses pembangunan patung dikarena belum melengkapi dokumen pendirian.

�Dulu kita sempat melarang dan meminta proses bangunan itu dihentikan, tetapi masih diteruskan bangun oleh pengurus Klenteng. Kita akan memberikan sanksi tegas buat pengurus,� janji Wabub Tuban.

Sementera itu, Ketua Klenteng Tuban, Gunawan Putra Wirawan, belum mau menjelaskan terkait dokumen pendirian patung dewa tersebut. Beberapa kali di konfirmasi, tetapi pengurus belum  memberi jawaban secara resmi.

Sebatas diketahui, patung tersebut mendapatkan rekor MURI sebagai patung terbesar se-Asia Tenggara. Patung itu, Senin (17/7/2017) lalu diresmikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan.

sumber : halopantura dan swamedium