Sabtu, 10 Juni 2017

Julia Perez, Cucu Anggota Kopassus yang Gagal Menjadi Kowad TNI.!

Artis Julia Perez atau yang kerap disapa Jupe hadir dalam acara pameran alat utama sistem pertahanan (Alutsista) TNI Angkatan Darat di Universitas Bung Karno (UBK), Jalan Kimia, Jakarta Pusat, Senin (31/8).

Artis yang kerap memamerkan tubuhnya yang seksi ini mengaku tak asing lagi dengan dunia kemiliteran. Pasalnya, cerita Jupe, kakeknya dulu merupakan mantan anggota TNI, sehingga dirinya tak asing akan dunia kemiliteran.

"Aku dari kecil udah enggak asing dengan dunia militer. Kakek aku tuh mantan Kopassus," ujar Jupe yang mengenakan kaos hitam bertuliskan Army ini.

Jupe menjelaskan, kedatangannya ke acara tersebut tak lain karena ia merupakan bagian dari Universitas Bung Karno. Dia tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum di UBK yang saat ini tengah menunggu untuk wisuda. Katanya, acara pameran alutsista ini adalah cara yang baik untuk memperkenalkan alat-alat TNI bagi masyarakat luas.

"Ini cara yang baik bagi TNI untuk bermasyarakat, merangkul masyarakat untuk lebih kenal mereka lagi," tambahnya.

Lebih lanjut ia menceritakan, sejak kecil memang bercita-cita menjadi seorang anggota TNI. Namun, katanya, karena kendala postur tubuh, sehingga cita-citanya tersebut tak terwujud dan malah menjadi artis.

"Mau banget aku jadi kowad dari dulu, tapi karena ukuran badan enggak masuk. Padahal aku suka banget, kapasitas badan aku, tinggi aku kurang, harusnya 165 cm maksimum, padahal pengen banget," terangnya.

Sedikit curhat, mantan pacar pesepakbola Gaston Castano ini mengaku, jika memang bisa menjadi anggota TNI, dirinya menginginkan menjadi bagian penjinak bom di TNI.

"Kalau memang bisa, aku pengen jadi penjinak bom, namanya EOD. Spesial penjinak bom gituhhhh," tandasnya sambil tersenyum.

sumber : merdeka.com

Minggu, 04 Juni 2017

GAHAR.! KSAD : Pakai Kaos Palu Arit Ikut Tren? Ke Cina Saja!

Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Mulyono memerintahkan prajuritnya melucuti kaus bergambar palu arit dari tubuh pemakainya. Sebab, gambaran grafis itu memberi asosiasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang di Indonesia.

"Saya menginstruksikan apabila aparat menemui ada yang mengenakan kaus palu arit maupun lambang sejenis PKI, agar dicopot dan dimintai tidak boleh menggunakannya lagi, sebab larangan itu diatur dalam undang-undang," katanya, di Ternate, Rabu (1/6).

Mulyono mengatakan, ada yang memakai kaus lambang palu arit dipanggil dan ditanya, "Kenapa pakai kaus ini?" Dan dijawab, "Ini ngetren." Dia katakan, kalau mau ikut tren, ke Cina saja, karena PKI itu dilarang di Indonesia.

Penegasan itu disampaikannya kepada seluruh prajurit TNI yang hadir dalam kunjunganya di Ternate, terkait penahanan empat pemuda yang kaus bergambar palu arit.

"Tidak ada lambang terlarang (boleh) hidup di Indonesia. Ini negara Pancasila. Itu (palu arit) jelas adalah lambang partai terlarang. Ada UU dan Tap MPR jelas, yakni partai terlarang dilarang hidup di Indonesia," kata mantan panglima Kostrad itu.

Mulyono mengatakan, apabila ada yang mengenakan lambang palu arit dan sejenisnya lalu masih membantah, akan langsung digiring ke aparat kepolisian setempat.
"Diingatkan, kalau tidak mau lepas, segera melaporkan ke polisi karena ini melanggar UU. Yang melanggar hukum segera dilaporkan kepada polisi agar diproses hukum. Kalian boleh menangkap sementara, setelah itu kasih ke polisi. Kalau dia kasihkan copot kausnya, selesai. Jangan dipakai lagi," kata Mulyono.

Sementara, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut ancaman neoliberalisme pada Pancasila bisa melebihi ancaman komunisme melalui bangkitnya Partai Komunis Indonesia.

"Saya ingatkan, kebangkitan PKI bukan hanya dilihat di permukaan, tapi di bawah permukaan. PKI berbahaya, tapi yang lebih berbahaya neoliberalisme," kata Gatot selepas simposium nasional bertajuk "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain", di Balai Kartini, Kamis (3/6).


Sumber : Antara

Sabtu, 03 Juni 2017

Kisah Mbah Suma, Berjuang dengan Jendral Sudirman, Tapi Kini Hidup dalam Kemiskinan!


Banyak kenangan yang menarik tertuang ketika Mbah Suma (112) menceritakan perjuangannya saat melawan penjajah. Mulai dari perjuangan mengusir kolonial Belanda hingga perjuangan melawan penjajahan Jepang Mbah Suma tak pernah gentar. Bahkan hidup dan matinya sudah Ia serahkan jauh sebelum hari ini datang. Hari di mana Indonesia merdeka. Pemerintahan yang kaya raya, namun kepahitan dan kegetiran hidup dalam kemiskinan tak sedikitpun menyurutkan nyalinya untuk tetap bertahan hidup.

Saat bertemu Mbah Suma di rumah gubuk kayu-nya yang berukuran kurang lebih 3 x 4 meter di Jalan Tengku Perkasa, Kelurahan Rumbai Bukit, Kecamatan Rumbai, Mbah Suma langsung menyalami satu persatu redaksi Riau Pos (Jawa Pos Group) yang datang.

Dengan wajah yang tua renta, garis-garis kulitnya sudah mulai terlihat. Sore itu, Mbah Suma tengah duduk di depan rumahnya. Yang mana pada lokasi tersebut akan dibangunkan sebuah rumah layak huni oleh Pemerintah Kota Pekanbaru.

Dengan mengenakan Kaos loreng lusuh dan mengenakan bawahan celana panjang hitam, Mbah Suma mengajak tamunya masuk. Istrinya Ida (70) langsung menyambut dengan senyuman yang hangat menyapa.

Mbah Suma pun mulai bercerita. Ia mengaku pernah ikut berjuang bersama Jendral Sudirman pada masa penjajahan Belanda di Jawa barat.

�Saya pernah ikut Jenderal Sudirman,�ungkapnya yang masih kental dengan logat sunda.

Ia juga menceritakan betapa beratnya berjuang melawan penjajahan Belanda demi satu tujuan kemerdekaan.�Hampir tertembak sangat sering, nasib beruntung yang masih buat saya hidup sampai saat ini,�ujarnya.

Pengalaman paling menakutkan yang pernah Ia alami ialah saat terkepung di sebuah hutan lebat di Jawa Barat. Ketika itu Ia bersama pejuang lainnya menginap di Hutan tersebut selama 15 hari, menunggu bala bantuan datang.

Setelah 15 hari menunggu akirnya bantuan pun datang. Melalui bantuan udara Ia bersama pejuang lainnya berhasil diselamatkan oleh tim. Ya, itu hanya segelintir cerita perjuangan yang dialami oleh Mbah Suma di masa perjuangannya dulu. Saat ini Indonesia sudah 70 tahun merdeka.

Namun hidup dalam kemiskinan masih mendera mbah Suma. Diceritakannya, usai kemerdekaan di proklamirkan, Ia sempat pindah ke Jakarta.

�Saya udah pensiun kan gak jadi tentara lagi, tapi waktu itu pemda Jakarta janji berikan penghargaan kepada saya,�pungkasnya.

Namun janji-janji yang ditunggu mbah Suma tak kunjung terealisasi. Pada tahun 1982 Ia bersama keluarganya tertarik untuk ikut transmigrasi ke pasir pangarayan. Program transmigrasi saat itu sedang gencar dilakukan Presiden Soeharto. Berharap hidup dengan penghasilan layak, Mbah Suma akhirnya memilih untuk pindah Ke Pekanbaru pada tahun 1992 silam.

Sudah 23 tahun terakir mbah Suma menghabiskan masa tuannya di Kota Pekanbaru. Tepatnya di Jalan Tengku perkasa, Kelurahan Rumbai Bukit Kecamatan Rumbai. Tinggal di pedalaman rumbai dan menghuni rumah kayu, mbah Suma sehari-harinya bekerja sebagai pembongkar tanah timbun.

Namun belakangan dikarenakan faktor usia, saat ini Ia tidak lagi bekerja. Hanya saja sesekali menerima bantuan dari ke 7 orang anaknya yang juga hidup tidak terlalu berkecukupan.
Roswati (45) putri ke tiga mbah Suma, menyebutkan saat semenjak tinggal di Pekanbaru belum pernah mendapatkan bantuan. Namun baru hari ini Ia mendapatkan bantuan sebuah rumah yang diberikan oleh Walikota Pekanbaru, Firdaus St Mt yang penyerahannya diwakilkan oleh Camat Rumbai Zulhelmi Arifin Sstp Msi.

Senin (9/11) bersama jajaran Kecamatan Rumbai beserta Danramil Rumbai dan Rumbai pesisir, Mayor S Tarigan mendatangi Rumah Mbah Suma. Atas bantuan tersebut, Mbah Suma bersama istri sempat menangis haru mendengar dirinya mendapatkan bantuan sebuah rumah layak untuk ditinggali.

�Tadi pas saya baru aja sampai, mbah Suma langsung peluk saya sambil nangis. Dia bilang makasih Kapten, Makasih Kapten diulang ulang sampai 5 kali. Itu sambil peluk saya nangis-nangis, dia manggil saya kapten,�sebut Ami.

Saat ini, Lanjut Camat, Rumah layak untuk Mbah Suma sudah dikerjakan. Pondasi rumah sudah mulai terbentuk. Sehingga nanti ketika sudah selesai diharapkan dapat menjadi suatu tempat tinggal yang baik untuk mbah Suma dan keluarga. Selain itu nantinya, Mbah Suma juga akan diperjuangkan status veterannya. Dikarenakan saat ini Mbah Suma tersendiri belum terdaftar sebagai Veteran di daerah Riau. �Saya sudah coba bincang sama pak Danramil, nantinya akan diurus bersama. Bagaimana hasilnya nanti doakan saja,�pungkasnya.

sumber : bengkuluekspress

Kisah HARU Arsilan, Veteran dan Tukang Kebun Soekarno yang Kini Menjadi Pemulung!

Di tengah-tengah kehadiran Wakil Presiden Jusuf Kalla dan pejabat lainnya dalam perayaan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, hari ini, Selasa (10/11/2015), terdapat satu sosok yang tidak dikenal orang.

Adalah Arsilan (92), seorang veteran perang kemerdekaan yang turut hadir di upacara tersebut. Pria yang pernah ikut pertempuran sekitar tahun 1940-an di wilayah Tangerang, Banten, ini bercerita tentang hidupnya.

Meski menyandang status veteran, Arsilan yang hadir mengenakan pakaian dinas upacara TNI AD berwarna hijau muda pucat itu bukan anggota pasukan khusus. Dia hanya laskar pejuang tanpa pangkat yang kini mengaku belum pernah mendapat uang kesejahteran.

"Saya berjuang lillahi ta'ala untuk kemerdekaan negara. Saya berjuang tidak minta gaji. Saya bukan orang kuli, kalau orang kuli minta gaji," kata Arsilan saat ditemui di TMP Kalibata.

Meski mengaku tak pernah digaji, Arsilan tetap membutuhkan uang. Namun, hingga kini pemerintah tidak pernah memberikan bantuan kepadanya. Dia pun harus mengais sampah demi menghidupi keluarganya.

"Sekarang saya pemulung, saya buta huruf juga. Tapi tidak pernah menerima (bantuan) dari negara. Enggak dapat pensiun," tutur dia.

Hidup dengan Bung Karno

Arsilan kemudian menceritakan kisah hidupnya saat bersama dengan Presiden RI Pertama, Sukarno. Dia mengaku, usai pertempuran di Banten, ia memperoleh pekerjaan dari Bung Karno sebagai tukang kebun. Di sanalah ia mendapat uang untuk hidupnya.

"Saya ditarik sebagai tukang kebunnya Bung Karno. Jadi saya dikasih uang pribadi oleh keluarga Sukarno," ujar dia.

Namun, setelah Bung Karno wafat, ia pun terakhir kali mendapat bantuan dari keluarga Sukarno pada 2003.

"Terakhir saya dikasih uang pertamanya Rp 5 juta. Terus ada yang patungan, seorangnya kasih Rp 350 ribu," kata dia.

Setelah tak lagi bekerja di keluarga Sukarno, kini pria yang sudah berusia 92 tahun itu harus hidup di bawah pohon di dekat Tugu Proklamasi. 

"Iya saya tinggal di emper pohon di daerah sana (dekat Tugu Proklamasi)," ujar dia.

Dia pun berharap pemerintah bisa memberikan bantuan yang cukup, mengingat Indonesia kini berkembang dengan cepat.

"Yang penting sama-sama makmur atau tidak. Dia paceklik, kita juga paceklik," kata dia.

Namun, ada sebuah kejadian lucu usai memperingati Hari Pahlawan di Tugu Proklamasi. Arsilan mencegat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu untuk foto bersama. Menhan pun berhenti dan memenuhi permintaan lelaki sepuh tersebut.

"Bapak, mohon izin berfoto sebentar," kata Arsilan kepada Ryamizard.

Meski demikian dia menegaskan bahwa dirinya benar-benar tidak mengetahui siapa orang yang dia cegat untuk foto bersama.

?"Saya ini orang buta huruf, jadi saya tidak tahu orang tadi itu siapa. Saya tadi minta izin saja untuk berfoto sekadar buat kenang-kenangan di Taman Makam Pahlawan ini," ujar Arsilan. 

sumber : liputan6

Mengenal TJAKRABIRAWA, Pasukan Elit Pengawal SOEKARNO yang Berkhianat!

Kepada semua anggauta Tjakrabirawa!"

Tahukah kamu untuk apa Tjakrabirawa diadakan?
Setialah kepada tugasmu!
Aku melimpahkan kepercayaan penuh kepadamu!

Presiden/Panglima Tertinggimu

Soekarno
Jakarta 5 Oktober 1962

Itulah pesan Presiden Soekarno kepada segenap anggota Resimen Tjakrabirawa. Pasukan elite yang baru dibentuk 6 Juni 1962. Tepat di hari ulang tahun Bung Karno ke-61. Tjakrabirawa dibentuk khusus untuk mengawal keselamatan Soekarno dan keluarganya.

Personelnya dipilih dari pasukan terbaik empat angkatan. Angkatan Darat mengirimkan Batalyon Banteng Raiders, Angkatan Laut mengirim Korps Komando Operasi (KKO), Angkatan Udara mengirim Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dan Polisi mengirim Resimen Pelopor.

Seluruh anggotanya wajib punya kemampuan terjun payung dan pernah memiliki pengalaman perang gerilya. Soekarno sendiri yang memilih nama Tjakrabirawa, dari senjata sakti milik Batara Kresna. Semboyannya 'Dirgayu Satyawira' berarti pasukan setia berumur panjang. Soekarno juga yang mendesain baju dan perlengkapan pasukan pengawalnya.

Pembentukan Tjakrabirawa dinilai perlu oleh menteri pertahanan saat itu Jenderal Nasution. Sebabnya percobaan pembunuhan pada Presiden Soekarno terus terjadi. Mulai dari serangan pesawat oleh Daniel Maukar, penggranatan di Makassar dan Cikini, hingga penembakan saat Salat Idul Adha di istana.

Awalnya Soekarno menolak. Dia merasa pengawalan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang berkekuatan belasan polisi istimewa ini sudah cukup. Namun para pimpinan tentara berhasil mendesak Soekarno untuk membentuk sebuah pasukan elite pengawal presiden.

"Pada hari kelahiranku di tahun 1962, dibentuklah pasukan Tjakrabirawa. Satu pasukan khusus dengan kekuatan 3.000 orang yang berasal dari keempat angkatan bersenjata. Tugas pasukan Tjakrabirawa adalah melindungi presiden," kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Menurut Soekarno , tugas Tjakrabirawa tak cuma mengawal. Ada juga yang menyediakan grup band dan menghibur dirinya. Mereka juga bertugas mencicipi makanan sebelum disantap oleh Soekarno .

Diakuinya juga, Tjakrabirawa menjaganya rapat. Mereka selalu mengamankan gerak-gerik Soekarno . Awalnya Soekarno merasa kagok juga, tapi dia lalu terbiasa.

"Satu-satunya yang yang tidak dapat dijaga oleh Tjakrabirawa adalah kesehatanku. Aku punya satu ginjal yang membatu," canda Soekarno .

Ajudan senior presiden, Kolonel Sabur menjadi komandan pertama Resimen Tjakrabirawa. Pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal. Sementara Kolonel Maulwi Saelan menjadi wakilnya.

Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan yang ditemui merdeka.com menjelaskan Soekarno sangat dekat dengan para pengawalnya. Soekarno hapal dengan anggota Tjakrabirawa yang biasa bertugas di sampingnya.

" Bung Karno itu sangat egaliter. Saya pernah berdebat dengannya, sampai mukanya merah padam karena marah. Beliau lalu masuk kamar. Beberapa saat kemudian beliau panggil saya. Saya tegang, wah mau dipecat saya, pikir saya. Ternyata Bung Karno bilang, Saelan, kamu yang benar. Luar biasa beliau mau mengakui dirinya salah, padahal berdebat dengan bawahan," puji Saelan.

Sayang, tak seperti harapan Soekarno , Tjakrabirawa tak berumur panjang. Sebagian kecil pasukan elite ini kemudian terlibat penculikan para jenderal dalam peristiwa G30S. Tak semua terlibat, hanya sekitar 60 orang di bawah pimpinan Letkol Untung yang mengikuti aksi itu. Namun semua terkena imbasnya.

Umur resimen Tjakrabirawa hanya seumur jagung. Dibubarkan jenderal Soeharto di senjakala kekuasaan Soekarno yang makin meredup. Seperti kata pepatah, karena nila setitik hancur susu sebelanga.. 

sumber : merdeka.com

Jumat, 02 Juni 2017

GEGER..! Ketika Jakarta MENCEKAM Gara-Gara Bentorakan Dua Pasukan Elit.!

Resimen Tjakrabirawa dibentuk 21 Juni 1962 untuk menjaga keselamatan Presiden Soekarno . Banyak keistimewaan pasukan elite yang dibentuk dari gabungan empat angkatan ini.

Salah satunya, Tjakrabirawa bukan berada di bawah Markas Besar TNI, tetapi langsung di bawah presiden. Anggaran operasionalnya pun langsung ditangani rumah tangga kepresidenan. Seragam Tjakrabirawa dibuat sedikit kecoklatan dengan baret warna merah bata. Berbeda dengan pakaian organik TNI saat itu.

Banyak yang tidak suka dengan penampilan Tjakrabirawa. Sebagian anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) misalnya, mereka merasa Tjakrabirawa tak layak mengenakan baret merah. Maklum, bertahun-tahun baret merah identik dengan RPKAD yang sudah menorehkan prestasi di berbagai palagan.

"Kalau ada Tjakra lewat jalan raya Bogor dan lewat Cijantung suka disorakin sama anak-anak RPKAD," kata Adi, seorang pensiunan RPKAD mengingat hal tersebut saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (27/9).

RPKAD dan Tjakrabirawa bahkan pernah terlibat bentrok berdarah. Jakarta tegang oleh ulah dua pasukan elite itu sekitar tahun 1964. Penyebab bentrok berdarah itu cuma masalah sepele. Pagi harinya Tjakrabirawa dari KKO dan RPKAD sedang berlatih baris berbaris di Lapangan Banteng.

Setelah latihan, anggota RPKAD belajar menyetir mobil. Entah siapa yang memulai tiba-tiba kedua satuan elite ini saling ejek. Lalu berkembang jadi perkelahian. Karena lokasi dekat dengan markas Marinir, RPKAD kalah jumlah. Mereka lalu mengontak kawan-kawan mereka di Markas RPKAD Cijantung.

Bukan hanya pakai sangkur, mereka semua menggunakan senapan serbu AK-47. Ada beberapa yang menyandang bazooka dan siap menembak. Kawasan Kwini hingga Senen, Jakarta Pusat tak ubahnya seperti medan pertempuran.

Komandan Batalyon I RPKAD Mayor Benny Moerdani baru pulang main tenis dari Senayan langsung meluncur ke lokasi kejadian. Benny melihat puluhan anggota RPKAD dan KKO tergeletak penuh darah di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat.

Untungnya Benny kenal dengan Mayor Saminu, komandan Batalyon KKO Tjakrabirawa itu. Dia meminta tembak menembak dihentikan. Benny pun menyuruh seluruh anggota RPKAD pulang naik truk ke Cijantung.

Tindakan Benny mencegah jatuh korban jiwa lebih besar. Saat itu RPKAD sudah siap menembakkan bazooka, sementara KKO sudah siap memberondongkan AK-47 mereka.

Banyak satuan lain merasa iri dengan Tjakrabirawa karena disangka digaji lebih tinggi dan sejahtera. Padahal menurut Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan, hal tersebut tidak benar.

"Kalau gaji itu dibayarkan dari satuan. Misal anggota Tjakrabirawa dari Yon 454, ya gajinya dibayarkan tetap dari Yon 454. Tidak ada kesejahteraan lain. Di Tjakrabirawa itu ya cuma bertugas," kata Saelan saat berbincang dengan merdeka.com.

Soal hubungan Resimen Tjakrabirawa dengan RPKAD yang tidak akur, Saelan mengakui memang ada yang iri karena menganggap Tjakrabirawa lebih sejahtera. Tapi selebihnya baik-baik saja.

"Tjakra dianggap istimewa, apalagi baretnya hampir sama. Mereka anggap kita pasukan yang wah. Tapi saya sendiri tak ada masalah. Saya terjun di RPKAD, di Batujajar. Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo meminta saya melatih RPKAD main bola. (Saelan adalah mantan kiper Timnas Indonesia yang pernah menahan Uni Soviet 0-0 di semifinal olimpiade 1956)," jelasnya.

Presiden Soekarno sendiri rupanya sudah mencium akan ada kecemburuan antarsatuan. Dalam pidatonya, Soekarno meminta Tjakrabirawa tak perlu sombong.

"Tugas Resimen Tjakrabirawa tidak lebih tinggi dari tugas Angkatan Darat. Sebaliknya, tugas Angkatan Darat tidak lebih tinggi daripada tugas Resimen Tjakrabirawa. Jangan ada salah satu angkatan yang merasa dirinya lebih dari angkatan lain, tidak!" pesan Soekarno .

"Jikalau aku memberi pakaian yang mentereng kepada kompi protokol, itu tak lain dan tak bukan ialah tiap-tiap negara harus mempunyai barisan protokol yang mentereng. Datanglah ke negara manapun, barisan protokolnya selalu mentereng. Ia punya pakaian bukan buat ganteng-gantengan, tetapi ialah untuk menjunjung tinggi nama negaranya," lanjut Soekarno .

sumber : merdeka.com


Ahmad Yani, Calon Presiden Pengganti Soekarno yang Gugur Karena Kekejaman PKI!

Sebagai Menteri/Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani pada 1962 menuliskan ungkapan menarik tentang Pasukan Tajrabirawa. Dalam pesan tertulis Ahmad Yani di Majalah Tjakrabirawa edisi Oktober saat itu, Pasukan Tjakrabirawa diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dalam segala kondisi.

"Terapung sama hanyut, terendam sama basah," begitu tulis Ahmad Yani dalam testimoni untuk Pasukan Tjakrabirawa. 

Menurut mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Purn Maulwi Saelan, Ahmad Yani adalah yang paling dekat dengan Bung Karno. Saelan juga menuturkan, Soekarno pernah menyebut kalau Ahmad Yani adalah penggantinya sebagai presiden.

"Bung Karno bicara seperti itu kepada saya. Bung Karno menilai Ahmad Yani adalah sosok penggantinya yang tepat di kemudian hari," kata Saelan saat ditemui merdeka.com pada Jumat (27/9) di Sekolah Al-Azhar Kemang, Jakarta Selatan.

Saelan juga menjelaskan, jauh-jauh sebelumnya, Soekarno juga sudah mendengar persetujuan pihak keluarga Ahmad Yani. Hingga dijadwalkan akan ada pertemuan untuk membahas hal itu lebih lanjut. Dalam penjelasan Saelan, Ahmad Yani dijadwalkan akan menemui Bung Karno di Istana Jakarta pada 1 Oktober 1965.

"Dalam agenda yang kami pegang saat itu, Ahmad Yani akan menghadap. Tapi tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Dari penuturan Bung Karno akan Yani sebelumnya, pertemuan itu akan membahas kelanjutan untuk membahas Ahmad Yani sebagai pengganti Bung Karno," ujar saelan lebih lanjut.

Hubungan Yani dan Soekarno mulai dekat ketika Yani menjabat Kepala Staf Gabungan Komando Tertinggi (KOTI) pembebasan Irian Barat sekitar tahun 1963. Yani juga menjadi juru bicara tunggal Panglima Tertinggi soal Irian Barat. Hampir setiap hari dia rapat dengan Soekarno di Istana. Hubungan mereka kemudian memang erat. Setelah menjabat Kasad, hubungan Yani dan Soekarno makin akrab.

"Banyak yang bilang bapak jadi anak emas Presiden Soekarno," kata putri Yani, Amelia A Yani dalam buku Achmad Yani Tumbal Revolusi terbitan Galang Press.

Amelia Yani mengingat hubungan ayahnya dan Presiden Soekarno sangat dekat. Amelia mengingat Soekarno ikut peduli dengan renovasi rumah Yani di Menteng. Soekarno juga sering mengajak Yani ikut dalam kunjungan ke daerah. Bahkan menyempatkan hadir saat syukuran rumah Yani.

"Hari Minggu pun Bapak dan Ibu sering menemani Bung Karno dan ibu Hartini ngobrol-ngobrol di Istana Bogor," kenang Amelia.

Namun kemesraan itu tak berlangsung lama. Isu Dewan Jenderal dan rumor kudeta Angkatan Darat membuat jarak di antara Soekarno dan Yani.

Mantan Wakil Perdana Menteri Soebandrio punya keterangan berbeda soal rencana pemanggilan Yani tanggal 1 Oktober 1965 itu. Di buku 'Kesaksianku tentang G30S', Soebandrio menyebut, Presiden Soekarno memanggil Yani untuk untuk dimarahi karena tidak setuju dengan keberadaan angkatan kelima. Dalam catatan Soebandrio itu, posisi Yani sebagai Menpangad akan dicopot. 

"Yani malah sudah siap kursinya (Menpangad) akan diberikan kepada orang lain. Saat itu juga beredar isu kuat bahwa kedudukan Yani sebagai Menpangad akan diganti. Presiden Soekarno memerintahkan agar Yani menghadap ke Istana pada 1 Oktober 1965 pukul 08.00 WIB. Tetapi hanya beberapa jam sebelumnya Yani diculik dan dibunuh," tulis Soebandrio dalam bukunya.

Soal Yani, menambah satu lagi polemik tak terjawab dalam G30S.

Sumber : merdeka.com

Selasa, 30 Mei 2017

Kegusaran Hati Sang Panglima tentang Migrasi, Gatot: Singapura Itu Dulu Melayu!

Puisi berjudul "Tapi Bukan Kami Punya" karya Denny JA menjadi banyak dibicarakan dan menjadi pro dan kontra lantaran dibacakan oleh panglima TNI Gatot Nurmantyo di rapimnas partai Golkar di Balikpapan beberapa hari lalu.

Menanggapi hal itu, Gatot justru menjelaskan makna isi puisi tersebut. Menurutnya, ancaman yang sangat nyata dari puisi yang ia bacakan tersebut nyatam yakni ancaman migrasi penduduk yang sudah terjadi di sejumlah negara.

"Saya ingatkan bahwa sekarang ini yang paling berbahaya adalah migrasi. Migrasi itu bukan pengungsian," ujar Gatot kepada wartawan di kantor Kementerian Dalam Negeri, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (24/5).

Menurut Gatot, saat ini, penyebaran manusia sudah tak mengenal batas. Manusia kata dia secara sadar akan selalu mencari tempat yang lebih baik dan yang lebih menjanjikan.

"Sekarang sudah meningkat kompetisi antar manusia. Manusia tak mengenal batas dan mencari tempat yang lebih menjanjikan, lebih baik hidupnya, teori gaji namanya,"tegas Gatot

Gatot pun membeberkan, pada tahun 2050 mendatang, diperkirakan 480 juta orang akan mengungsi ke berbagai wilayah. Salah satunya karena penamanasan global yang terjadi. Tak perlu  jauh ke tahun 2050, pada tahun 2020 saja kata Gatot sudah ada 60 juta orang mengungsi dari sub-sahara (Afrika). 

Penyebaran manusia secara sporadis untuk mencari tempat baru ini kata Gatot sudah diantisipasi oleh beberapa pemimpin negara-negara besar dan maju. Sebut saja  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang sudah menutup akses dari Meksiko. Pun demikian PM Inggris dan Australia yang juga telah menutup pengungsian.

"Hasil dari migrasi kita lihat bahwa dulu di Amerika ada suku Indian sekarang hampir punah, Australia Aborigin juga hampir punah, di Singapura dulu Melayu. Sekarang jadi Singapura," tegas Gatot.

Atas dasar itu, Gatot menegaskan, Indonesia harus waspada akan ada potensi eksodus atau migrasi besar-besaran penduduk dunia tersebut. Kekhawatiran Jaka dalam puisi yang dibacakannya kata Gatot meminta agar masyarakat Indonesia waspada.

"Jadi kalau tidak waspada anakmu juga bisa seperti Jaka. Apabila kita tidak waspada bisa seperti Jaka tadi. Habis terpinggirkan, bukan orang Indonesia lagi, kita terpinggirkan," demikian Gatot.

sumber : rmol

Berantas Terorisme. Jenderal Mulyono: TNI Kalau di Hutan itu Segar, Kaya Lagi Idul Fitri!

DPR dan pemerintah tengah membahas Revisi Undang-Undang (UU) tentang tindak pidana pemberantasan terorisme. Salah satu poin pembahasan adalah melibatkan TNI dalam aksi memberantas terorisme di Indonesia.

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono menilai, positif wacana tersebut. Selama ini, tindak pidana terorisme seluruhnya dilakukan oleh Densus 88 di bawah naungan Polri.

"Yang penting TNI siap untuk dilibatkan apapun. Tanggapan oke oke saja," kata Mulyono saat ditemui di Gedung Serba Guna, Markas Besar TNI AD, Jl Veteran Nomor 5, Jakarta Pusat, Selasa (30/5).

Mulyono mengaku justru senang jika TNI diberi tugas terjun ke hutan guna mencari sarang teroris. Dia mengibaratkan tugas itu seperti hari raya Idul Fitri.

"Tentara kalau di hutan itu segar, kaya lagi hari Raya Idul Fitri," kata Mulyono.

Salah satu anggota Panja RUU Antiterorisme, Arsul Sani mengatakan, definisi teroris menjadi penting karena di masyarakat. Saat ini ada semacam perasaan tidak adil terkait tindakan teror. Dirinya pun membandingkan dua kasus terorisme yang pernah terjadi sebelumnya.

"Kan saat ini di masyarakat tidak bisa dipungkiri, ada dalam tanda kutip perasaan, belum tentu benar ya, terdiskriminasi. Contoh, yang selalu paling disebut kan begini, begitu ada peristiwa bom buku yang dikirimkan kepada komunitas Utan Kayu, Ulil, disebut terorisme tetapi yang di Alam Sutera itu tidak disebut terorisme, yang di mal itu," pungkas Asrul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/5).

Apalagi, Ia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia dan dunia masih menganggap terorisme dilakukan kelompok Islam. "Itu yang kemudian menimbulkan ada sekelompok masyarakat yang merasa terdiskriminasi dengan pemahaman yang berkembang. Seolah-olah kalau terorisme dilakukan kelompok Islam, ditujukan anti-Islam, maka itu terorisme," ujarnya.

sumber : merdeka.com