Push Up adalah olahraga yang ringan dan tergolong olahraga yang tidak memerlukan biaya sama sekali, dan push up juga merupakan olahraga fisik yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Sedari kecil kita juga sudah di perkenalkan dengan jenis olahraga yang menggunakan tubuh sebagai bebannya. Push up memiliki fungsi yang baik bagi kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Push up dilakukan dengan cara menumpukan seluruh tubuh pada kekuatan lengan sehingga efek pengencngan pada otot lengan anda akan telihat lebih signifikan jika anda rutin melakukannya dengan disiplin dan benar, selain bias mengencangkan otot lengan olahraga push up juga dapat membantu mengecilkan otot pada bagian perut. Tapi kebanyakan orang belum tahu cara push up yang benar.
Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal kita perlu mengetahui cara melakukan push up yang benar, karena kita tak akan mau melakukan hal yang sia-sia. Sudah melakukan push up secara rutin bukan mendapatkan tubuh yang ideal justru malah yang dirasakan hanya capek saja atau malah cedera.
Untuk menghindari kejadian itu terjadi, disini kita akan membahas tentang bagaimana cara melakukan push up yang benar. Melakukan push up bukanlah hal yang sulit, tapi tetap saja kita harus memperhatikan keselamatan kita dalam melakukan olahraga ringan ini, berikut ini adalah cara melakukan push up yang benar :
Pemula: Push Up di dinding
Berdiri di depan diding yang datar, lalu letakkan kedua telapak tangan anda di depan dinding. Lalu bengkokkan lengan anda dengan memajukan badan ke depan dinding. Lakukan dengan sebanyak-banyak mungkin, jika sudah terbiasa dan coba lakukan gerakan puluhan kali. Sekarang coba anda lakukan dengan tekanan pada setiap gerakan, dan cobalah setiap gerakan lakukan push up dengan tangan satu.
Intermediate: Push up Berlutut
Posisikan tubuh anda layaknya Push up yang benar, tapi di cara ini lutut anda sebagai tempat tumpuannya. Letatkan tangan anda di lantai dengan lurus dengan wajah ke depan dan kaki anda di silangkan. Turunkan dada anda dengan perlahan ke dekat lantai lalu kembali ke posisi semula.
Advanced: Push Up Sempurna
Sebaiknya saat melakukan push up tidak perlu menggunakan alas, karena lebih baik lakukan langsung di depan lantai. Letakkan tangan di lantai dengan posisi terbuka selebar bahu anda. Kaki bertumpu pada ujung jari kaki anda, hingga tubuh berposisi lurus sempurna. Dan jangan ada posisi atau bongkong anda menonjol ke atas. Turunkan bahu anda sampai membentuk siku 90 derajat. Kemudian dorong bahu dan lengan hingga lurus kedepan dengan sambil mengambil nafas. Sebaiknya push up dilakukan pada pagi dan sore hari, dan untuk para pemula sebaiknya melakukan push up dengan bertahab-tahab.
Mengencangkan Otot
Melakukan push up yang baik dan benar akan mengencangkan otot-otot anda, terutama pada bagian lengan, dada, dan perut.
Meningkatkan percaya diri
Dengan melakukan push up yang rutin maka akan meningkatkan rasa percaya diri kamu, karena vitalitas yang meningkat akan membuatmu Pede dalam setiap penampilanmu. Selain itu, dengan melakukan push up sebanyak 50 sampai 100 kali tentunya akan membuatmu percaya kalau kamu memang kuat, maka dengan begitu anda akan percaya diri.
Membakar Kalori
Tentunya dengan melakukan push up, maka tubuh kamu akan memerlukan energi yang banyak. Maka energi tersebut mungkin saja diambil dari cadangan lemak kamu, untuk itu push up dapat menjadi pilihan yang baik untuk membakar kalori di tubuh.
Push up adalah olahraga yang mudah dilakukan, tetapi mempunyai manfaat yang baik. Untuk itu dari sekarang cobalah biasakan push up. Sekian Cara push up yang benar dan manfaatnya dari kami dan selamat mencoba. Mungkin sebagian anda sering terasa sakit perut saat berlari dan apa masalah?
sumber : doktersehat
Lemak di perut bukan cuma mengganggu penampilan, tetapi juga buruk bagi kesehatan. Nah, untuk mengecilkan perut, tentu saja kamu butuh olahraga rutin dan berkala agar bisa mendapatkan perut rata dan bebas lemak.
Seperti dilansir dari womenshealthmag.com, kamu bisa mendapatkan otot perut yang rata dengan sekian gerakan yang dilakukan berdiri berikut ini. Lakukan latihan tersebut sebanyak 3-4 kali set dengan jeda istirahat 30 detik setiap set atau jika lelah. Lakukan rutin 2-3 kali per minggu.
Dumbell side bendGerakan ini cukup simpel. Kamu hanya butuh dumbel. Buka kedua kaki selebar bahu, kemudian bawa bahu dengan menggerakkannya menyamping kanan dan kiri. Lakukan 10 kali dalam satu set.
Standing core stabilizationTetap dengan kedua kaki terbuka selebar bahu. Angkat barbel dengan kedua tangan tepat di depan tubuh, lalu gerakkan menyamping ke kiri dan ke kanan. Lakukan hingga 10 gerakan sambil mengatur nafas dan menahan otot perut.
Bow extensionTetap dengan berdiri, angkat barbel dan gerakkan serong dari atas kanan ke tubuh bagian kiri hingga perut dengan lutut terangkat ke atas. Lakukan sambil mengatur nafas dan perlahan sambil menahan otot perut.
Reverse dumbbell chopGerakan ini lebih menyeluruh, angkat barbel dari atas dan gerakkan menyerong hingga ke paha bawah. Lakukan sambil menahan otot perut.
Empat gerakan ini sangat mudah dilakukan dan bisa memberikan efek yang sangat baik untuk kekencangan otot perut dan lengan yang kencang.
sumber : doktersehat
Tangis Salli (50) pecah. Raungnya meledak kala penulis datang ke rumahnya di Koto Baru, Lubukbegalung, Padang, 11 Januari Lalu. Salli adalah wanita parohbaya yang rela menampung Anwar. Letnan satu yang terpaksa jadi pengemis itu. �Gaek sudah tiada. Kenapa tak datang lagi ke sini nak. Di sana kuburan gaek,� ujar Salli menunjuk ke arah bukit. Air mata leleh di pipinya yang keriput.
Perlahan raung Salli mereda. Dia berkisah tentang Letnan Anwar yang digerogoti usia dan mulai saki-sakitan hingga ajal menjemputnya. Selama sakit, Anwar tidak diobati dengan telaten, paling banter, dia Cuma dikasih bodrex atau prokol. �Sejak 2008 itu, ketika anak tak ke sini lagi, gaek terus sakit-sakitan. Kian hari, kondisinya bertambah parah. Demikian, dia masih saja berjalan. Benar-benar keras kepala,� ungkap Salli.
Salli berterimakasih karena banyaknya orang yang peduli dengan Anwar. Sayangnya, kepedulian itu muncul saat Anwar telah tiada. �Bapak sudah tiada 12 April 2011 lalu. Kok baru sekarang orang mencarinya. Kala dia sudah tiada. Dulu, ketika dirinya mengemis untuk bertahan hidup, kenapa tak ada yang peduli. Bahkan, banyak yang menertawakannya ketika dia bercerita tentang kisah hidupnya. Menganggap itu semua lelucon,� sebut Sally (50).
***********
Kisah Letnan Satu Anwar, pengemis renta yang ditulis POSMETRO tahun 2008 silam kini menasional. Anwar yang diangkat cerita jalan hidupnya ke media masa kala berusia 94 tahun, jadi perbincangan di media sosial. Tapi sayang, penghormatan yang datang tak diketahui Anwar. Si Beringas dari Kuranji itu dipuji kala tiada. Anwar wafat 2011 silam. Sang Letnan, menghembuskan nafas terakhirnya akibat sakit yang tak terobati. Anwar pergi membawa kisah tragis seorang pejuang.
Banyak yang prihatin, bahkan menangis membaca laporan usang POSMETRO Padang. Cerita tentang Anwar yang sekarat menahan lapar, tentang keengganannya menerima bantuan pemerintah dan tentang tangan keriputnya yang menadah di tengah terik matahari, trotoar Jalan Sudirman, Kota Padang. �Sedemikian pilu. Orang yang ikut mengokang senjata melawan penjajah, malah tersingkirkan dari negeri yang diperjuangkannya dengan darah dan air mata. Di masa tuanya, Anwar malah melakoni hidup sebagai pengemis di Kota Padang. Tidak ada lencana veteran, bintang pejuang atau salam penghormatan. Dia terlantar. Sebegitu kurangnya empati negeri ini. Atau memang demikian cara menghormati pahlawan?� ucap Rahmat Fauza yang mengaku sudah dua hari berkeliling Kota Padang untuk menemukan Anwar.
Rahmat bukan satu-satunya pemuda yang mencari keberadaan Anwar. Di jejaring Kaskus, belasan orang mengaku sudah berbulan-bulan mencari Anwar. Tapi tak bertemu. Hal yang sama juga dilakukan aktivis Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI). Dari Jakarta, mereka datang ke Padang untuk menyelamatkan Anwar. �Barangkali, sudah separoh Kota Padang kami jelajahi. Tapi tidak ada yang tahu, siapa Anwar,� tulis KCPI dalam situs resminya.
Kisah Anwar dibeberkan dipuluhan thread media sosial. Kepahlawannya diakui setelah dari keisengan salah satu pengguna internet yang mengedit foto Letnan Anwar agak kurang ajar. Foto Anwar yang diambil oleh fotographer POSMETRO Padang Ermansyah, saat tengah meminta sedekah itu, diedit seakan-akan Anwar meminta chip permainan poker. Ulah itu memancing reaksi warga dunia maya. Mereka marah, Anwar sang pahlawan dibuat demikian. �Benar-benar kelakuan yang tak bisa ditoleransi. Anwar itu pahlawan. Seharusnya kalian malu bukannya mempermalukan,� tutur beberapa pengguna Kaskus.
Pemimpin Kompi 3 Sumatera Selatan itu dipuji. Letnan Anwar, itulah sebenarnya pahlawan. Meski dilupakan, dirinya tak memberontak, tidak marah, atau mengkaji-kaji pengorbananya untuk negeri. �Tapi sekarang dia tiada. Angkat topi atas keteguhan hatinya,� sebut pengguna twitter @ikhocans.
**********Kisah Anwar diberitakan POSMETRO 28 Juli 2008. Penulis kala itu bertemu Anwar yang sedang mengemis di Simpang Kandang, Kota Padang. Tubuhnya ringkih, terduduk lesuh. Tanpa alas di atas trotoar yang panas karena ditempa sinar matahari. Dia pengemis tertua di Kota Padang. Pengemis yang memiliki masa muda hebat, tapi berakhir tragis.Sepintas, Anwar memang tak beda dengan pengemis lain. Bau bacin, berkemeja lusuh, sandal jepit, dan kopiah luntur. Kulitnya keriput dengan kantong mata yang menghitam. Wajahnya keriput, dipenuhi bulu-bulu abu-abu. Mulutnya kering, dengan gigi yang hanya tinggal dua. Gesturnya, selalu saja berharap belas kasih. Pada setiap yang lalu di depannya, Anwar mengulurkan tangan. Berharap ada yang memberinya uang.
Tapi, di balik penampikan kumalnya, siapa sangka, Anwar adalah seorang pejuang. Pengokang senjata kala negeri ini diamuk penjajah. Dia adalah Komandan Kompi 3 Sumatera Bagian Selatan, dengan pangkat Lentan Satu. Pemimpin yang mahir empat bahasa. Dia fasih berbicara bahasa Inggris, Jepang, Belanda dan tentu saja bahasa Indonesia. Akan tetapi, kerasnya hidup menyeret Anwar, ke lumbung kemiskinan. Sang letnan tiarap pada kehidupan. �Tak perlu. Jangan disebut lagi masa lalu. Itu sudah habis. Jangan dikenang lagi,� tutur Anwar kala itu. Saat dia masih hidup.
Anwar betul-betul keras. Sulit memintanya bicara banyak. �Saya sedang berusaha. Jangan diganggu. Ini belum makan, lihat itu, belum berisi,� ucap Anwar menunjuk ember biru yang ada di depannya. Ember itu sengaja disediakan, untuk orang melempar uang sebagai wujud dari rasa iba terhadapnya. Seolah, perkataan Anwar sebuah isyarat : Kalau mau bicara, isi ember itu. Hampir setegah jam hirau, Anwar akhirnya menyerah. Dia mau bicara. Tentang hidupnya. �Tapi jangan diputarbalik apa yang saya katakan,� ucap Anwar yang pernah juga bekerja sebagai kelasi kapal berbendera Jerman Barat.
Tanah Kuranji adalah tempat pertama yang menyambut kelahiran Anwar. Dia terlahir dari keluarga petani, 94 tahun lalu. Masa mudanya dihabiskan di pinggiran Kota Padang itu. Anwar adalah jebolah Sekolah Sembilan (kini Belakang Tangsi-red) tahun 1930. Lepas Sekolah Rakyat, Anwar mulai bekerja serabutan. Akhirnya dia diterima sebagai kelasi kapal. Tahun 1932 sampai 1939 Anwar berlayar. Dalam kurun waktu itu tak sedikit keragaman budaya yang dilihat pak tua. �Saya lulus sekolah Belakang Tangsi 1930. Selanjutnya berlayar tujuh tahun mengelilingi Asia sampai ke Australia. Kemudian pulang untuk berjuang. Saya tak mau bersenang-senang di atas kapal, sementara Bangsa kita sedang berjuang merebut kemerdekaan. Naluri kebangsaanlah yang memanggil jiwa untuk ikut berjuang,� terang Anwar.
******Anwar muda sudah terbiasa berperang. Dia hidup untuk berpetualang. Melintasi medan. Bergerilya. Menunggu saat yang tepat menyerang tentara Belanda. �Saya bekas tentara Sumatera Selatan. Komandan Kompi 3. Tak terkira derita. Masa pergerakan benar-benar sulit. Desing peluru, bau mesiu, mayat dan simbahan darah hal biasa. Pelepas penat dan kebanggaan kala itu, sewaktu pulang ke barak, kita membawa topi serdadu, atau barang rampasan perang lainnya,� ulas Anwar.
Lubang kecil bekas hantaman peluru yang menghiasi kaki kananya, menjadi bukti keikutsertaan Anwar berjuang untuk bangsa. Karena tembakan itu, kini dia berjalan pincang. �Kaki ini ditembus peluru di Jalan Jakarta (Simpang Presiden-red). Waktu itu hari masih pagi. Perjanjian Linggarjati baru saja disepakati. Tapi Aziz Chan menentang perjanjian itu. Belanda marah dan mengamuk. Menyerang membabi buta di tengah Kota. Hasilnya, ya kaki ini kena tembak waktu mau pulang ke barak,� terang Anwar.
Bukan cuma ditembak. Anwar pernah merasai pengap hidup di balik jeruji besi. �Empat tahun saya dibui. Tertangkap waktu bergerilya, dari Padang dengan tujuan Payokumbuah yang waktu itu, tahun 1946 sedang bergejolak. Kala melewati Padangpanjang saya tertangkap Belanda. Waktu itu, peluru habis sementara kaki saya masih sakit. Saya digiring, kaki dirantai, diberi golongan besi, �ungkap Anwar mencoba merunut kembali petualangan masa lalunya.
Di Panjangpanjang, Anwar diperlakukan tak senonoh oleh Belanda. Hantaman bokong senjata, sayatan belati sampai dipaksa minum air kencing. Namun sang Letnan tetap tegar. Kepalanya tegak, walau kucuran darah dari pelipisnya tak berhenti. �Penjara dulu, bukan seperti sekarang. Dulu, tangan diikat kawat berduri, kaki dirantai golongan besi. Saban hari kena pukul. Bahkan, Untuk minum, mereka memberi air putih yang dicampur kencing,� celoteh Anwar.
Jangan pertanyakan nsionalisme pada Anwar. Kecintaannya pada Indonesia tak pernah surut. Terus berkobar. �Saya pernah ditanya tentara Belanda. Apakah saya berjuang dan jadi tentara karena hanya kedudukan dan jabatan semata? Saya jawab apa adanya? Berjuang untuk negara, bukan kedudukan. Bila kelak mati di sini. Saya bangga, karena itu demi negara,� ucap Anwar.
Anwar berjuang terus. Sampai dia sendiri lupa akan keluarganya. Anwar pernah menikah dengan seorang wanita Belakang Olo. Tapi hanya sebentar Anwar mengecap indah rumah tangga. Istrinya mati karena kolera dan kekurangan asupan gizi, ikut juga tiada anak yang dikandungnya. Anwar baru tahu istrinya tiada empat bulan kemudian, tepatnya saat dia pulang bergerilya.
******Lepas dari itu, Indonesia akhirnya merdeka dengan penuh. Namun tak begitu bagi Anwar. Tak ada penghargaan yang diterimanya. Pengorbanan dan perjuangannya yang dikibarkannya seakan dilupakan. Anwar hilang di tengah gegap gempita kemerdekaan. Ditambah kematian istri, seolah pembawa petaka. Anwar kehilangan semangat hidup. Sempat terjerumus ke dunia hitam. Anwar tobat. Tapi, hidup memang tak pernah berpihak pada Anwar. Semakin terlunta-lunta. Hingga jalan sebagai pengemis jadi pilihan terakhirnya.
Tak ada tanda jasa. Tak ada lencana penghormatan yang diterima Anwar. Bahkan gelar pahlawan veteran pun tak singgah. �Saya tak butuh apapun. Dulu, saya berjuang bukan untuk mendapatkan tanda jasa. Saya berjuang untuk negara. Tak perlu tanda jasa apalagi uang. Biarlah hidup begini, asal tak menganggu orang lain. Saya rela. Memang, ada kawan yang ikut mengangkat senjata kebanyakan tenang menjalani masa tuanya. Saya tak suka itu, bagi saya berjuang bukan untuk kemapanan masa tua,� jawab Anwar. Dia segera berdiri, pergi minta segelas air kepada pedagang di depan Masjid AL Mubarah, Sawahan.
Memang, dulu Anwar pernah diberi sertifikat veteran. Namun karena jalan hidupnya yang sering berpindah tempat �surat sakti� itu raib entah kemana. Padahal, surat itu adalah sebagai landasan Anwar untuk menerima haknya sebagai veteran. �Kalau tak salah Surat Bintang Gerilya. Tapi surat itu sudah hilang. Kata orang surat itu adalah syarat untuk menerima tunjangan dari pemerintah. Tapi tak apalah, saya juga tak perlu itu. Kan sudah saya katakan kalau saya berjuang bukan untuk uang apalagi jabatan. Walaupun meminta-minta tapi saya tak menyusahkan orang lain. Saya sudah pernah hidup senang di atas kapal. Sekarang saatnya susah,� kata Anwar.
Letnan Anwar. Sang pahlawan kini telah tiada di masa pembangunan. Di tak menerima apa-apa dari perjuangan. Sebatas penghormatan pun tidak. Anwar terlupakan. Bangsa ini benar-benar sudah berdosa padanya.
Memang Anwar tak minta apa-apa dari perjuangannya. Itu menjadi pelajaran ke depannya. Terhadap Anwar-Anwar yang lain. Apakah kita tega melihat orang yang melepaskan kita dari jeratan penjajah harus terlunta. Mengemis untuk hidup. Tanah kemerdekaan yang kita pijak ini berhutang darah padanya.
Kami kembali merawikannya, karena banyak yang bertanya dimana Sang Letnan sekarang. Ternyata, sang letnan sudah tiada. Dia pulang ke pangkuan-NYA, tanpa upacara penghormatan dan isak tangis anak negeri. Maka benarlah pameo lama, kepahlawanan seseorang itu dihargai kala dia tiada. Saat hidup, siapa peduli dengan Anwar. Pemerintah? Mereka tak peduli. Bahkan tak tahu, kalau Anwar, orang yang negeri ini berhutang darah padanya, melakoni hidup sebagai pengemis.
sumber : maharadjo
Apapun alasannya, yang namanya main hakim sendiri tidak pernah dibenarkan. Toh, Indonesia sudah memiliki pihak yang berwajib yang bertugas menegakkan hukum. Tapi sayangnya, hingga saat ini banyak masyarakat yang begitu mudah terprovokasi dan melakukan tindak main hakim sendiri. Terlebih jika bersinggungan dengan kasus pencurian, warga dengan begitu ringan tangan mengeroyok hingga korbannya tewas.
Walhasil, para pelaku pengeroyokan juga bakal tersandung masalah hukum. Bukannya menyelesaikan masalah, nyatanya timbul masalah baru yang lebih berat. Bukan hanya sekali dua kali terjadi, namun berkali-kali. Berikut ini adalah beberapa contoh kasus main hakim sendiri yang membuat korbannya tewas, padahal masalah pemicunya sangat sepele.Diduga mencuri ampli, pria dibakar massa hingga tewas
Malang benar nasib seorang tukang service TV di Bekasi ini. Karena dituduh maling ampli di masjid, ia harus merenggang nyawa setelah dibakar oleh warga. Cerita tersebut makin viral di sosial media karena postingan seorang netizen. Diceritakan bahwa sebenarnya pria tersebut hanya numpang shalat ashar di masjid Desa Muara Bakti. Dia terpaksa membawa ampli miliknya masuk ke dalam masjid karena takut hilang jika ditaruh di jok motor.
Saat keluar dari masjid, seorang warga melihatnya membawa ampli dan mengira bahwa dia adalah maling. Sontak saja teriakan maling membuat warga naik darah. Seketika korban jadi sasaran kemarahan warga. Pria tersebut sudah berusaha menghindar, bahkan berlari ke kampung sebelah. Namun warga justru terus mengejar dan mengamuk. Bahkan ada yang menyiram dengan bensin hingga membakarnya hidup-hidup. Pria tersebut pun tewas dengan luka bakar parah tanpa ada yang menolong.
Pengepul petai dikira penculik dan dihajar massa
Isu penculikan anak awal tahun 2017 lalu juga memberi dampak yang sangat mengerikan. Bukan hanya memberi rasa khawatir pada orangtua yang memiliki anak kecil, tapi ada juga korban nyawa. Sebut saja Maman Budiman, seorang pengepul petai yang dicurigai sebagai penculik hingga dikeroyok massa hingga tewas. Kejadian tersebut berawal saat Maman berniat menjemput anaknya.
Rencananya, sepulang dari menjemput sang anak, korban berniat mencari petai dari petani yang nantinya akan dijual lagi di pasar. Namun ternyata, kedatangan korban mengundang kecurigaan warga. Sontak saja, warga yang termakan info hoax langsung menangkap korban. Masyarakat yang berkumpul makin ramai akhirnya tak mampu menahan amarah, mereka pun mengeroyok Maman dengan membabi buta hingga tewas.
Diduga mencuri burung, remaja 16 tahun tewas dikeroyok warga
Seorang remaja 16 tahun berinisial TP harus merenggang nyawa sesaat setelah warga ramai-ramai menghajarnya. Padahal, masalahnya begitu sepele, korban diduga mencuri burung milik salah satu warga. Diduga, korban melakukan aksinya bersama dua temannya. Namun, dua rekannya berhasil meloloskan diri, sementara TP habis diamuk warga.
Sementara itu, ibu salah satu tersangka pencurian burung mengaku tak terima dengan tindakan warga yang main hakim sendiri. Mereka masih remaja, wajar saja jika bandel. Namun menegur mereka bukanlah dengan cara kekerasan, terlebih sampai membuat TP meninggal dunia. Masih ada hukum yang bisa membuat mereka menyadari kesalahan.
Maling pisang tewas tragis ditangan massa
Mei 2017 lalu, Indramayu digegerkan dengan pengeroyokan dua pemuda yang diduga maling motor. Salah satunya bahkan tewas mengenaskan setelah dihakimi massa. Kapolres Indramayu, AKBP Eko Sulistyo Basuki mengatakan bahwa korban sama sekali tak berkutik karena begitu banyak warga yang mengeroyok. Ketika polisi datang, korban Santo (19) sudah tewas.
Sementara Egi (18) mengalami luka parah. Setelah dilakukan penelusuran oleh pihak kepolisian, ternyata kedua korban hanyalah pencuri pisang, bukan maling motor seperti yang dituduhkan warga. Polisi menyayangkan tindakan wa rga yang kerap main hakim sendiri, terlebih korbannya masih berusia remaja.
Itulah sedikit contoh kasus main hakim sendiri yang kerap terjadi di Indonesia. Hanya karena hal sepele, bukankah sangat disayangkan jika harus ada nyawa yang dikorbankan? Semoga kejadian di atas menyadarkan kita untuk tidak mudah terprovokasi hingga melakukan aksi main hakim sendiri.
sumber : boombastis
Kasus anggota TNI memukul petugas keamanan bandara beberapa kali terjadi. Rata-rata dipicu oleh anggota TNI yang tak terima disuruh melepas jam tangan atau sabuk. Mereka kemudian marah hingga memukul petugas.
Yang terbaru, seorang anggota TNI AL Sertu MH memukul sekuriti bandara Soekarno-Hatta. Penyebabnya, Sertu MH hendak mengantarkan keluarganya yang pulang ke Jayapura.
Karena cuma mengantar dan tentu tak memiliki tiket, Sertu MH dilarang masuk ke lokasi check in. Aturannya memang counter check in hanya untuk penumpang, dan pengantar tak boleh masuk.
Petugas meminta Sertu MH meminta izin dulu. Namun setelah mengurus izin, ternyata keluarga Sertu MH tak bisa check in karena waktunya telah lewat. Sertu MH pun terlibat cekcok dan emosi hingga memukul petugas bandara berinisial NF. Kasus ini ditangani Polisi Militer TNI AL.
Pihak Mabes TNI berkali-kali meminta anggotanya tertib dan tidak arogan di bandara. Ikuti aturan keamanan yang ada.
Bahkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mencontohkan bagaimana berlaku tertib di bandara.
Dalam foto yang diunggah oleh Puspen TNI, tampak Jenderal Gatot Nurmantyo sedang diperiksa dengan metal detector. Gatot yang mengenakan pakaian sipil tampak mengikuti standar pemeriksaan yang ada.Hal ini sesuai dengan aturan keselamatan penerbangan yang disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
Menteri Budi menyatakan bahwa pelaksanaan dan penegakan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan setiap penumpang maupun barang yang akan diangkut dengan pesawat udara, wajib untuk diperiksa. Pemeriksaan tersebut menjadi tugas dan kewenangan petugas Avsec.
"Ini dilakukan untuk menjamin tidak ada barang terlarang (prohibited items) yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan melawan hukum yang tentunya dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan," kata dia.
Kalau Panglima TNI saja memberi contoh tertib. Malu dong prajurit yang arogan di bandara.
sumber : merdeka.com
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mendorong Kejaksaan Agung membuka kasus penembakan misterius atau petrus dan membawanya ke pengadilan. Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Yosep Adi Prasetyo mengatakan jumlah korban dari peristiwa penembakan misterius tahun 1982 sampai 1985 mencapai 10 ribu orang.
Dari sekian orang yang dianggap preman oleh pemerintah Orde Baru, seorang di antaranya adalah Trimurjo alias Kentus. Ia menceritakan betapa ia sangat menderita akibat operasi petrus. Siapa saja yang dianggap gali atau preman, pasti mati ditembak secara misterius. Satu per satu nyawa teman-temannya hilang. Ada Wahyo, Tetuko, Kojur, Iren, Slamet Gajah, Slamet Gaplek, Polimron, Peno, dan Bandi Ponyol.
Gundah akibat kematian beberapa teman, Kentus bersama Monyol dan Mantri, dua target petrus lainnya, minta perlindungan Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta pada awal tahun 1983. Mereka mengadu pada Adnan Buyung Nasution (mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden), Yap Thiam Hien (pejuang HAM--sudah meninggal), Abdurrahman Saleh (mantan Jaksa Agung), dan Maqdir Ismail (pengacara).
Berbekal informasi minim, jurnalis Tempo, Muh Syaifullah, mengubek-ubek perkampungan di kawasan lokalisasi Pasar Kembang hingga sekitar Tugu Yogyakarta untuk mencari Kentus. Tapi, ia tak menemukannya. Setelah menyisir informasi dari banyak orang, akhirnya Kentus bisa ditemui di rumah kontrakannya di Jlagran, Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Kamis pekan lalu.
Bagaimana kisah Anda jadi target petrus?Kalau di sini (Yogyakarta) disebut OPK (Operasi Pemberantasan Kejahatan). Ramai-ramainya akhir tahun 1982. Saat itu sedang ramai kampanye. Saya jadi disuruh mengawal Golkar menjadi semacam satuan tugas (satgas). Lalu ada teman saya namanya Wahyo ditembak di lokalisasi SG (Sanggrahan-sekarang Terminal Bus Giwangan Yogyakarta).
Mengapa kawan Anda ditembak?Saya awalnya tidak tahu mengapa dia ditembak. Ditembak oleh siapa juga tidak tahu. Setelah meninggal, dan saya mau melayat, saya dilarang sama teman-teman. "'Enggak usah melayat. Kamu nanti ikut kena.' 'Kena apa?' 'Kena operasi gali.' Kata saya, 'Lah gali-gali kenapa? Saya enggak merasa jadi gali.' 'Kalau kamu melayat di sana, malamnya kamu bisa dibunuh,'" kata teman saya.
Apa yang terjadi setelah itu?Lalu, satu hari setelah Wahyo mati ditembak, Tetuko sama Kojur, teman saya, juga mati bareng ditembak. Setelah itu, saya merasa tidak enak. Jangan-jangan nanti giliran saya ditembak. Kampung saya ini (Jlagran) kan dulu masuk dalam kampung blacklist. Lalu, setelah itu ada Iren, juga teman saya yang mati dibunuh. Ini tahun 1982 akhir mau masuk tahun 1983. Yang Iren itu ngeri. Dia ditembak di kandang babi di depan anak dan istrinya. Dia diberondong peluru. Setelah Iren meninggal, saya semakin resah.
Setahu Anda, berapa orang yang dianggap gali di Yogyakarta ini yang ditembak mati?Kalau di Kota Yogyakarta ada 30-an mati ditembak. Bantul banyak banget. Kalau se-DIY lebih dari 200 orang yang mati ditembak.
Menurut Anda, mengapa mereka ditembak?Lah itu kami penuh tanya mengapa mereka mati ditembak. Kami ini waktu itu pengawal Golkar. Tapi kalau Wahyo itu kerjaannya di terminal lama (sekarang Taman Hiburan Rakyat Purawisata). Dia di sana jualan tiket. Tetuko dan Kojur juga sama. Mereka dianggap gali. Kalau sekarang dianggap preman. Kalau saya kan hidup memang di jalanan. Tapi tidak pernah memeras atau mencuri. Kalau berantem sering. Saya juga menjadi penjaga keamanan di SMA Bhinneka di belakang Pasar Kranggan, Yogyakarta.
Anda juga jadi target?Saat saya di SMA Bhinneka, tahu-tahu saya dicari oleh tiga orang, aparat semua. Satu saya kenal sebagai polisi dengan pakaian preman. Saya baru masuk kerja dan kebetulan ada di lantai atas. Saat tiga orang itu mencari, kepala sekolah saya bilang, "Sudah keluar tadi". Saat tiga orang aparat itu pergi, saya turun. Lalu enggak pulang dan tidak tidur di rumah.
Apa yang Anda lakukan setelah melihat teman-teman Anda tewas ditembak?Di kampung saya, yang dituakan ada tiga. Pak Monyol, Pak Mantri, dan saya. (Kini Monyol sudah meninggal akibat kecelakaan, sedangkan Mantri menghadap Tuhan karena sakit). Kami berembuk, kalau tidak pergi repot. Kami menyuruh seorang bocah kampung sini (Jlagran) beli tiket kereta api. Tujuannya Jakarta, ke kantor LBH. Kami naik kereta Senja Utama. Saat itu kereta sudah jalan, kami kejar kereta itu. Sampai Jakarta bingung. LBH di mana juga enggak tahu. Lalu ada ide ke kantor Kompas. Saya minta tolong salah satu wartawan Kompas yang dari Yogyakarta untuk mengantar ke LBH, yang di Jalan Diponegoro. Di LBH ketemu Abdurahman Shaleh, Yap Tiam Hien, dan Adnan Buyung Nasution. Saya omongkan semua di sana.
Apa tanggapan LBH?Kata Pak Buyung, ini soal OPK, to. Penembakan-penembakan itu, to. Pak Yap bilang ini urusan kecil. Saya jawab, urusan kecil, tapi orang-orang di Yogyakarta dibunuh. Pak Yap menangani kasus-kasus besar. Lalu saya diserahkan ke Pak Buyung, Pak Arman, dan Maqdir Ismail. Maqdir masih sangat muda, kayaknya baru lulus kuliah saat itu. Saya disuruh menginap di LBH. Waktu itu yang nangani OPK Dandim Yogyakarta. Saat itu dijabat oleh M. Hasbi. Saya menginap di LBH satu minggu. Akhirnya, Pak Hasbi tahu kalau saya di LBH Jakarta. LBH ditelepon sama Hasbi. LBH disuruh menyerahkan kami bertiga. LBH tidak mau. Lalu LBH minta surat jaminan hidup. Jika tidak ada surat jaminan hidup, maka kami tidak dipulangkan. Lalu Hasbi mengeluarkan surat jaminan hidup. Surat dikirim ke Pak Buyung dan kawan-kawan di LBH.
Anda balik ke Yogyakarta bersama siapa?Kami pulang ke Yogyakarta naik kereta api. Yang mengawal kami Maqdir Ismail. Sampai di Yogyakarta, kami dijemput empat tentara pakai tutup kepala dan senjata laras panjang. Kalau sekarang seperti perlakuan kepada teroris. Mereka mau menculik kami. Pak Maqdir ngomong, 'Kalau Bapak ini mau menembak, tembak saya dulu, yang mengawal.' Dari LBH juga menjemput kami ada juga Pak Artidjo Alkostar. 'Tembak saya,' kata Artidjo. Akhirnya mereka mundur.
Setelah dari stasiun, Anda dibawa ke mana?Oleh LBH saya dibawa ke Bu Marni Basyaruddin, orang LBH. Waktu di rumah itu, sering ada teror. Tiga hari di rumah Bu Marni. Teror melalui telepon. Rumah mau digranat, mau dibom. Bu Marni sampai stres. Lalu kami diserahkan LBH ke Kodim oleh Maqdir. Dititipkan di kantor Kodim di Jalan Sudirman, Yogyakarta. Satu minggu dimasukkan sel. Tidak ada penyiksaan. Tapi kami lihat temboknya itu banyak darah bercecer.
Anda diteror?Kami diteror mau dibunuh ada. Ada tentara yang bilang, 'Temanmu sudah pada mati, kamu tak bunuh.' Kami makan beli sendiri. Dari Kodim, kami diserahkan ke Polres selama lima hari. Kami disel, tetapi pintu sel kami bertiga tidak dikunci. Tetapi sel lain penuh. Setiap hari saya diinterogasi. Saat di Kodim diperiksa juga, bahkan pengusaha-pengusaha Cina di Malioboro dikumpulkan untuk ditanya apakah saya pernah minta uang kepada mereka. Tidak ada yang bilang pernah saya mintai uang. Kalau pengusaha ada yang bilang bahwa saya pernah minta uang, saya pasti langsung ditembak.
Apa yang Anda lakukan setelah keluar dari tahanan?Selama delapan tahun saya tidak kerja. Saya stres. Setiap Senin saya harus apel di kantor Koramil (Gedongtengen) selama enam tahun. Anak saya dua waktu itu. Mau kerja, di mana-mana saya ditolak. Saya bahkan diusir oleh teman sendiri. Jika ada di rumah orang, maka satu jam kemudian pasti rumah itu dikelilingi intel.
Bagaimana Anda menghidupi anak-istri?Saya akhirnya jual nasi kecil-kecilan. Mau beli sepatu buat anak saja tidak kuat. Istri saya (Wahyu Handayani) kurus-kecil. Mau bayar sekolah anak juga sulit. Bahkan anak saya disuruh pulang mau dikeluarkan karena belum bayar SPP. Lalu saya bisa kerja. Pernah di Astra Credit Company 1992-1997. Beberapa perusahaan mengajak saya kerja. Sekarang saya kerja di perusahaan mebel untuk ekspor.
BIODATANama: Trimurjo alias KentusLahir: Yogyakarta, 3 Maret 1955Istri: Wahyu Handayani, kelahiran 1959Anak: empatCucu: tigaAlamat: Jlagran, Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta.
Suka penasaran nggak sih, apa rahasia badan tegap atletis ala anggota militer? Ternyata ada latihan Military Fitness Basic Training (MFBT) yang terinspirasi dari pelatihan militer Amerika. Kabar baiknya lagi, para penggemar olahraga kebugaran di Indonesia juga bisa mengikuti latihan yang menggabungkan pelatihan taktis, kebugaran dan martial arts ini.
Di tempat latihan yang berlokasi di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, kita nggak akan menemukan peralatan fitness yang biasa ditemukan di gym. Peralatan seperti treadmill, barbel dan sepeda statis diganti dengan kantong pasir, tangga, tali tambang, rantai dan ban.
�Ini adalah latihan dasar yang bisa dilakukan siapa saja. Kita bisa berlatih dimana pun dan kapan pun. Tidak ada peralatan khusus yang diperlukan. Pokoknya peralatan minimalis yang bisa membentuk badan,� kata Elberlino Tiwa, founder MFBT Jakarta yang pernah mengikuti U.S.Corps Training di San Diego, Amerika.
Salah satu bentuk latihan dalam MFBT. (APTN)
Layaknya olahraga lain, MFBT diawali dengan pemanasan. Setelah itu peserta langsung melakukan High Intensity Tactical Training (HITT). Caranya dengan mengangkat kantong pasir seberat 15 kilogram sambil melompati ban dan tangga yang direbahkan di lantai. Rata-rata satu sesi latihan berlangsung selama satu jam.
�Seperti di militer, olahraga ini melatih orang untuk siap dengan kondisi apapun. Jadi tidak hanya fokus di satu latihan untuk membentuk otot tertentu. Tapi mendorong orang untuk lincah dan tangkas,� jelas Tiwa.
Hasil MFBT terlihat jelas pada peserta yang rutin mengikuti latihan. Salah satunya Sri Rahayu Yulianty, yang turun sampai 70 kilogram setelah latihan selama 2 tahun.
�Saya nggak sakit lagi. Pokoknya fit terus walaupun kerja sibuk, capek, tapi memang harus dipaksain. Karena tiap hari makan jadi tiap hari harus di-burn (kalorinya),�cerita Rahayu.
Training ala militer ini diikuti peserta berusia 20-40 tahun. Semuanya mengikuti latihan kebugaran sesuai kemampuan tubuh masing-masing. Tapi walaupun sudah disesuaikan, sebaiknya calon peserta menjalani screening kesehatan terlebih dulu, karena MTBF termasuk olahraga berintensitas tinggi.
Selain kebugaran fisik, latihan ini juga diklaim bisa menguatkan teamwork dan mental seseorang. Bagaimana, siap latihan fisik dengan gaya tentara?
sumber : netz
Memanggul senjata bagi TNI adalah hal yang biasa, baik pada saat latihan mapun pada saat di daerah operasi. Karena senjata merupakan bagian penting bagi persesonel TNI dalam mempertahankan kedalautan NKRI ini. Selain pekerjaan TNI sebagaimana yang telah diposting oleh Twitter TNI Angkatan Darat pada 1 Agustus 2017 lalu. Foto yang viral di Medsos tersebut terlihat seorang TNI AD yang berpangkat Sersan Kepala telah memanggul seorang anak sekolah untuk menyeberangkan sejumlah anak sekolah.
Kegitan penyebrangan ini rutin dilakukan setiap hari terutama pada pagi hari untuk membantu anak sekolah. Pekerjaaan ektra TNI ini tentulah bukan pekerjaan ringan tapi jiga membutuhkan keahlian khusus. Sebab jika dilihat sepintas, untuk memanggul anak sekolah sambil berpegangan di bambu tentunya harus ektra hati-hati. Karena jika tidak terbiasa bisa barikabat fatal dan harus memiliki nyali dalam menyebarangi sungai ini. Karena ketinggian dari permukaan sungai ini sekitar dua sampai tiga meter.
Twiter yang diposting TNI AD dengan judul Semoga di daerah @Kendari ini segera dibangun jembatan...#anaksekolah. Artinya daerah ini tidak memiliki fasilitas jalan penyebrangan belum memadai. Sehingga para abdi negara seperti TNI AD yang bertugas di sana menyempatkan diri untuk membantu anak sekolah setiap pagi dan sorenya untuk meyebrangkan. Salah satu nitizen membalas postingan TNI AD yaitu ??? ???? @ibnaby_ memberi berkomentar dengan mengatakan bahwa �Bravo @tni_ad sebenarnya ini hal sepele, tapi perhatian kalian melebihi mereka yg bertanggung jawab atas itu�.
Kebutuhan fasilitas seperti ini jika dilihat dalam foto tersebut, sungainya lebar dan dalam. Fasilitas penyebrangan terlihat hanya dengan dengan menggunakan kayu balok yang panjangnya sekitar satu setengah meter. Kemudia kayu tersebut di topang oleh bambu. Lalu diikat dengan tali nilon di tali penyebrangan sebagai penyangga utama.
Penyebrangan tersebut antara seberang dengan seberang harus ada dua orang yang menarik tali tambang sehingga penyebrang bergerak menuju ke tepi peyebrangan. Personel TNI yang membantu melakukan penyebrangan anak sekolah tepatnya di wilayah Kodim 1306/Donggala Kendari, Sultra. Kegiatan tersebut sudah merupakan rutinitas TNI dalam membantu warga untuk menyebrang walaupun dengan fasilitas yang sangat minim.
Informasi yang kami ketahui bahwa tempat peyebrangan ini dianggap efektif. Karena jika menggunakan jalan, tentunya akan memakan waktu lama untuk sampai ke tujuan. Jika menggunakan fasilatas penyebarangan ini hanya butuh waktu sekitar beberapa menit saja. Harapan kita bersama semoga pemerintah segera merealisasikan pembuatan jembatan penyebrangan untuk membantu masyarakat dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
Oleh karenanya kita berharap kedepan agar fasilatas jembatan di sungai tersebut harus segera dihadirkan. Mengingat jembatan tersebut sangat penting untuk digunakan para anak sekolah dalam meraih cita-citanya. Genarsi penerus bangsa itu ada pada anak sekolah. Untuk medukung cita-cita para generasi penerus tentunya harus ditunjang sejumalah fasiltas. Termasuk untuk membangun jembatan penyebrangan didaerah itu. Walaupun TNI tulus dalam penyebrangan, namun pemerataan pembangunan harus juga dapat dirasakan oleh rakyat di wilayah lain tanpa kecuali.
sumber
Seorang preman di Pasar Tambun, Bekasi, memutuskan untuk bergabung dengan organisasi Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya. Bang Black, pria itu biasa dipanggil, menyatakan dapat hidayah dan ingin belajar ilmu agama lebih dalam.
"Bang Black ini dari Aceh, enggak punya tempat tinggal, setiap hari jadi preman di Pasar Tambun," kata Sekjen FPI Bekasi Raya, Barkatullah ketika dikonfirmasi merdeka.com, Senin (31/7) malam.
Menurut dia, bergabung menjadi Laskar FPI sejak sepekan lalu, Bang Black menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu belajar agama yang dipimpin oleh seorang habib
"Kami sangat terbuka, dan berupaya membantu sesama yang ingin memperdalam ajaran Islam, dan menegakkan syariat-Nya," katanya.
Menurut Barkatullah, warga Aceh dengan FPI mempunyai sejarah. Kala itu, kata dia, FPI mengirimkan 1500 relawan untuk membantu warga Aceh yang terkena musibah tsunami.
"Bang Black mengenal FPI sejak masih di Aceh, karena jasa FPI di sana," ujarnya.
sumber : merdeka