Sabtu, 16 September 2017

Inilah Kisah 30 Pasukan �Hantu� Indonesia Kalahkan 3.000 Gerilyawan Kongo!

Kiprah Pasukan Garuda kembali menuai prestasi. 167 Prajurit TNI di Haiti yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXII-B/MINUSTAH (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haiti) menerima penghargaan Medali PBB.

Pasukan perdamaian dari Indonesia selalu bisa diterima dengan baik di negara penugasan. Sejak Kontingen Garuda I bertugas di Mesir tahun 1957, sejak itulah pasukan baret biru di bawah PBB ini mengharumkan nama bangsa.

Ada cerita menarik soal Pasukan Garuda. 30 Pasukan Garuda berhasil membekuk 3.000 gerilyawan di Kongo berbekal akal bulus dan kecerdikan. 

Ceritanya, Desember 1962 di Kongo sedang bergolak. Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Kolonel Kemal Idris berangkat sebagai pasukan perdamaian di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo). 

Saat itu kelompok milisi di bawah pimpinan Moises Tsommbe ingin lepas dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu. Rakyat sipil pun segera menjadi korban pertikaian antar milisi dan tentara pemerintah.

Pasukan Garuda III segera dikenal karena keluwesannya bergaul. Banyak Singkong di Kongo, pasukan TNI pun mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Selama ini rakyat Kongo hanya mengolah singkong menjadi tepung yang rasanya tidak enak.

Suatu hari, terjadi serangan yang dilakukan 2.000 gerilyawan Kongo ke markas Pasukan Garuda. Saat itu markas hanya dipertahankan 300 tentara. Setelah baku tembak berjam-jam, gerilyawan dapat dipukul mundur. Untungnya tak ada korban di pihak Indonesia.

Serangan balasan pun segera dirancang untuk menangkap para pemberontak. Letjen Kemal Idris menceritakan hal ini dalam buku biografi, Kemal Idris, bertarung dalam revolusi terbitas Sinar Harapan.

"Kami melakukan penyerangan di malam hari dengan kapal yang digelapkan di atas danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah Albertville. Pasukan kami yang berkekuatan 30 orang menyamar sebagai hantu," beber Kemal Idris.

Kemal tahu 3.000 pemberontak itu sangat percaya takhayul. Mereka takut pada hantu spritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang di waktu malam. Maka 30 anggota pasukan garuda itu berpakaian jubah putih dan segera menyerang.

"Melihat sosok-sosok putih bergerak-gerak, semangat mereka hilang sama sekali dan segera menyerah," kata Kemal.

Dalam operasi kilat itu, ribuan gerilyawan Kongo ditangkap. Senjata-senjata mereka yang ternyata lumayan canggih disita. Dalam peristiwa itu hanya seorang prajurit TNI yang cidera. Salah seorang gerilyawan yang panik saat digerebek, melemparkan ayam yang tengah dibakarnya pada tentara kita.

"Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang," kata Kemal bangga.

Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia mengaku bangga atas keberhasilan pasukan Indonesia menangkap 3.000 lainnya tanpa jatuh korban. Namun dia pun meminta ke depan cara-cara unik seperti itu tidak dilakukan. Karena risiko terlalu besar dan sangat membahayakan. 

Bravo Garuda.


sumber : merdeka

TNI-AD Membuat Gerakan Nonton Bareng Film PKI, Aktivis Ini Justru Meradang!

Salah satu pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Goenawan Mohamad yang merupakan pendiri majalah tempo sangat kecewa TNI AD mengadakan nonton bersama (nobar) Film �Pengkhiantan G30S/PKI�

�Daur ulang sejarah versi Orde Baru? TNI AD Gelar Nonton Bareng Film Pengkhianatan G30S/PKI,� kata Goenamwan di akun Twitter-nya @gm_gm.

Goenawan mengemukakan seperti itu sambil menyertakan artiel Tempo online berjudul �TNI AD Nonton Bareng Film Pengkhianatan G30s/PKI�.

Kata Goenawan, saat ini partai-partai di manapun sudah meninggalkan ideologi komunis.

�Sejak akhir abad y.l. ideologi komunisme sdh ditinggalkan partai2 komunis sendiri. Jangan rakyat dikubuli bahwa tak demikian keadaannya,� jelasnya seperti dikutip dari suaranasional

Goenawan meminta TNI AD menjelaskan adanya nobar film tersebut. �Bisakah kita minta penjelasan TNI-AD mengapa memutar film propaganda Orde Baru �Pengkhianatan G30S/PKI?�?� pungkas Goenawan.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Wuryanto mengatakan rencana nonton bareng film 'G 30 S' yang diselenggarakan TNI AD merupakan momentum untuk kembali mengingat sejarah. Wuryanto menilai saat ini banyak sekali upaya untuk memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.

"Tanggal 30 September kan momen bersejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, saat ini banyak sekali upaya pemutarbalikkan fakta sejarah peristiwa 30 September 1965," kata Wuryanto dalam keterangannya, Jumat (15/9/2017).

Wuryanto memandang masih ada sebagian orang yang berupaya untuk mencabut TAP MPRS No XXV/1966. Tak hanya itu, dia juga menilai ada beberapa kelompok yang mendorong pemerintah untuk meminta maaf kepada PKI.

"Upaya-upaya lain yang dilakukan sekelompok orang untuk pencabutan TAP MPRS no XXV/1966, upaya mendorong pemerintah minta maaf kepada PKI dan lain-lain," tuturnya.

Menurutnya, pelajaran sejarah dan Pancasila pun mulai berkurang selama era Reformasi. Karena itu, dengan adanya penayangan film 'G 30 S', keluarga besar TNI mencoba untuk mengngingatkan kembali kepada seluruh anak bangsa mengenai sejarah yang sebenarnya dialami oleh bangsa Indonesia.

"Sejak era Reformasi, pelajaran sejarah, Pancasila, budi pekerti dan lain-lain kan sangat kurang sehingga selama 19 tahun sampai hari ini, anak-anak muda kita jarang sekali melihat dan membaca sejarah sesungguhnya, bahkan justru yang kedengaran adalah yang sedang diupayakan pemutarbalikkan fakta sejarah karena suaranya lebih keras dan lebih lantang," ujar Wuryanto seperti dikutip dari detik.com

sumber : tribunislam

Dituduh Provokator Soal PKI, Jawaban Mayjen (Purn) Kivlan Bikin TERNGANGA!

Kontroversi seputar kebangkitan Komunis semakin heboh, mulai dari penyebutan pengalihan isu, provokator, dan banyak lagi serangan yang seolah mereka terbaik dan paling benar, semua terkait peran saya untuk mewaspadai hal tersebut bersama dengan para Purnawirawan-purnawirawan dan juga ormas-ormas yang keluarganya pernah merasakan Kekejaman dan Kebengisan PKI bersama pengikutnya, baik pada tahun 1948 sampai dengan 1965 yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya polemik di tengah-tengah masyarakat.

Mulai dari pro maupun kontra terhadap peran saya bahkan sampai-sampai ada yang membully saya, namun dengan demikian, dengan adanya bully tersebut saya hanya senyum-senyum gimana gitu sambil tertawa kecil karena inilah demokrasi, walaupun sampai-sampai anak dan istri saya prihatin, sedih, marah melihat Bapaknya di bully dan di fitnah habis habisan.

Namun dengan begitu saya sangat bersyukur karena ketika kebaikan muncul akan ada saja kedjoliman-kedjoliman yang muncul entah dari mana saja rimbanya dan pastinya dibalas dengan kebaikan karena ketika saya di djolimi dan juga munculnya fitnah-fitnah yang ada pada saat itu juga masih banyak yang membela saya.

Diantara pernyataan yang mencoba menyinggung saya menyebutkan
"Sayang namanya sudah baik ketika membebaskan awak kapal Indonesia yang di sandera di Filiphina, kok mau maunya meributkan PKI".

"Provokartor", yang lebih lucunya lagi sangat banyak dari mereka mencoba membangitkan permasalahan pada tahun 1999 terkait pernyataan Gusdur tentang Mayjen K sebagai dalang kerusuhan Ambon. Padahal masalah itu sudah clean and clear saya bukan dalang dan provokator Ambon. Dari sini saja dapat di ambil kesimpulan kecil dan sederhana yaitu mereka tidak tahu kejadian, kronologi, bahkan permasalahan namun mencoba memaksakan pendapat atau pandangannya tanpa melihat aspek-aspek yang ada.

Ingat!!!
Tidak ada niat jahat apapun, niat hanya Lillahi Ta'ala dan menyelamatkan Bangsa.

Peringatan buat para Hatter-hatter yang ingin mencari panggung dengan upaya-upaya yang menurutnya bisa mendobrak popularitas juga mencoba mencari perhatian orang-orang yang dia bully, sungguh kasihan, inilah Maling teriak Maling.

Hanya sedikit informasi bagi hatter-hatter bahwa Saya selalu berusaha untuk berbuat dan beramal untuk keselamatan Indonesia walaupun kini saya sudah pensiun sekian lama begitupun dengan jenderal-jenderal yang lain. Kami tidak perlu panggung lagi karena sudah punya panggung dan berperan menyelamatkan bangsa indonesia atau ada bahasa lain yang di sampaikan seperti cari muka, buat apa???lah wong sudah punya muka kok.

Jika jumlah kecil yang hanya 14 orang tersandera kemarin saja saya terlibat untuk menyelamatkan mereka, apalagi saat ini dengan jumlah sangat besar yang mencapai ratusan juta anak Bangsa terhadap kebangkitan Komunis yang telah melakukan kebiadapan dan kebengisan sehingga mengakibatkan para Jenderal-jenderal, Ulama-ulama dan Umat Muslim serta Tokoh-Tokoh Masyarakat TERBUNUH.

Ingat tidak jargon "The Old Soldier Never Die"??? Kehidupan saya, saya dedikasikan untuk Bangsa dan Negara Ini.

Maaf bukan ingin sombong atau menyombongkan diri, ingin dipuji tapi hanya sekedar ingin memberitahu kepada orang-orang jika ada yang mengkritik saya tekait keadaan dan situasi negara ini, apa yang sudah mereka berikan???

Sekarang saya coba sampaikan sebagian bukti dedikasi saya untuk Bangsa dan Negara ini. Agar orang-orang yang nyinyir terhadap saya bisa faham atas dedikasi saya selama ini.

1. Pada tahun 1973 saya terlibat dalam Pembebasan Sandera di Papua dimana Sanderanya yang merupakan seorang Bupati di salah satu kabupaten yang ada di Papua.

2. Pada tahun 1977 Pembebasan Pasukan yang terkepung di Illaga, Mulia, Piramid, Wamenna di Papua. Pada kesempatan itu saya mendapat kenaikan Pangkat Luar Biasa, yaitu dari Kapten ke Mayor

3. Pada tahun 1981 juga masih dalam Pembebasan Sandera yang mana Sanderanya merupakan seorang WNA asal Malaysia.

4. Pada tahun 1982 saya Sekolah ke Amerika bersama SBY.

5. Pada tahun 1985, 1986, 1987 saya berprestasi di Timtim, bahkan pasukan saya yang sudah terlatih tersebut saya berikan kepada Prabowo hanya demi menjaga keutuhan NKRI pada saat itu. Pada saat itu saya mendapat kenaikan pangkat luar biasa untuk kedua kalinya yaitu dari Mayor ke Letkol.

6. Pada tahun 1995-1996 saya sukses mendamaikan Moro National Liberation Front (MNLF) dengan pemerintah Filiphina. Pada saat itu saya mendapatkan kembali kenaikan pangkat, namun kali ini sangat sangat luar biasa yaitu dari Kolonel yang hanya satu tahun langsung menjadi Brigjen.

7. Pelepesan 15 kapal ikan indonesia milik PT Jayanti yang baru di beli dari china kemudian tertangkap dan di tahan oleh AL Filiphina Selatan.

8. Pada bulan Mei tahun 1998 mengamankan jakarta dari kerusuhan bersama ABRI lainnya dengan hasil misi yang berhasil hanya dengan tempo 3 hari.

9. Masih pada tahun yang sama yaitu bulan November tahun 1998 mengamankan MPR RI dari serbuan masa yang anti Sidang Istimewa dan dicurigai pergerakan itu di gerakkan oleh Anasir Komunis yang akan membunuh anggota MPR dan juga Presiden Habibi kala itu dan moment itu di kenal dengan Pamswakarsa.

10. Pada tahun 1999 mengamankan MPR RI dari serbuan masa PDIP karena saat itu Megawati tidak terpilih jadi Presiden.

11. Dan yang paling hangat lagi, Atas rencana Mabes TNI dan Bais, Jenderal tua ini masih mau membaktikan dirinya dengan taruhan nyawa demi membebaskan sandera di Filiphina Selatan. Sampai saat ini tidak satupun penghargaan dan ucapan terima kasih dari presiden kepada saya, dan saya tidak Membutuhkan dan Mengaharapkan karena yang saya lakukan hanya demi kemanusiaan dan Lillahi Ta'ala.


Sekarang karena bangsa dan negara terancam lagi, maka saya terpanggil lagi bersama para Jenderal tua lainya dan beberapa elemen Ormas yang peduli NKRI dalam menghadapi Komunis Gaya Baru yang di sebutkan oleh para hatter-hatter saya dan katanya di rancang oleh pemerintah bersama para jenderal para pendukung jokowi.

para hatter sebenarnya sudah berbuat apa sih???

Dalam hal-hal yang saya sebutkan terkait diri saya, perlu di ingat itu bukan untuk pamer ya!!! atau ingin membanggakan diri namun hal tersebut hanya untuk jadi pembelajaran bagi orang-orang yang suka nyinyir dan tidak membully orang seenak jidadnya, dan itupun kalau mereka mau berfikiran positif.*

___
*Sumber: fb Kivlan Zein

Tatang Koswara, Sniper Terbaik Indonesia, Siluman Cibaduyut Pemburu Fretilin!

Tatang adalah salah satu penembak jitu atau sniper terbaik di dunia. Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons (2000) yang ditulis Peter Brookesmith, Tatang masuk 14 besar dalam urutan Sniper�s Roll of Honour di dunia. 

Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53, dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978. 

Di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat, Tatang menjadisniper yang masuk ke jantung pertahanan musuh di daerah pertahanan lawan di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro. 

"Dulu Pak Edi Sudrajat bilang ini misi rahasia, tidak boleh diungkapkan sebelum diperintahkan. Saya menyimpan ini rapat-rapat, termasuk pada istri. Namun kini, orang luar (asing) yang mengungkapkannya terlebih dahulu," ungkapnya sambil tersenyum.

Saat ini, Tatang masih tampak gagah dan bugar meski divonis mengidap gejala penyakit jantung. Sorot mata ataupun ingatannya masih sangat tajam. Itu terlihat saat Tatang menceritakan perjalanan hidupnya terutama saat masa perang di Timor Timur.

Sebuah koper tergeletak di dekat pintu ruang tamu. Tak jauh dari sana, terlihat sejumlah foto Tatang berseragam lengkap dan sejumlah plakat penghargaan. Di depannya, terlihat hiasan berupa bagian senjata yang ditambahkan pemanis baret hijau TNI AD. 

Siapa pun yang datang bisa langsung mengenal siapa sang pemilik rumah dari ruang tamu sederhana ini. Sebagai seorangsniper, kehidupan Tatang sangat dekat dengan senjata. Padahal, dulu, ia tidak sengaja nyemplung di dunia militer. 

"Ayah saya memang seorang tentara. Tapi, saya (awalnya) tidak berniat untuk menjadi tentara," ucap Tatang di kediamannya di lingkungan kompleks TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015). 

Namun, nasib berkata lain. Saat itu, tepatnya pada tahun 1967, Tatang disuruh ibunya mengantar sang adik untuk mendaftar menjadi anggota TNI. Saat melakukan tes, dia bertemu dengan sejumlah perwira Dandim di Banten yang mengenalnya. Tatang pun ditanya kenapa tidak ikut daftar. 

"Saya kenal dengan perwira Dandim karena sebelumnya juara sepak bola. Karena juara sepak bola itu juga dan beberapa prestasi lainnya, saya diminta para perwira Dandim untuk daftar jadi anggota TNI," ujar Tatang. 

Setelah pulang ke rumah, Tatang remaja sempat bingung. Hingga keesokan harinya, dia menyiapkan semua persyaratan dan mendaftarkan diri lewat jalur tamtama. 

Sesuai dugaan, Tatang lulus, sedangkan adiknya harus mencoba tahun depan untuk bergabung ke TNI AD. 

Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak. 

Hingga tahun 1974-1975, Tatang bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway. 

"Tahun itu, Indonesia belum memiliki antiteror dan sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (Polri). Namun, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD," imbuhnya. 

Dalam praktiknya, Kopassus pun kesulitan memenuhi kuota yang ada. Setelah seleksi fisik dan kemampuan, dari kebutuhan 60 orang, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi. 

Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh temannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang dan 59 anggota TNI AD dilatih Kapten Conway sekitar dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter. Tak hanya itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, dan menghilangkannya. 

Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus dan mendapat senjata Winchester model 70. 

Seperti dikutip majalah Angkasa dan Shooting Times, Winchester 70 yang disebut "Bolt-action Rifle of the Century" ini juga digunakan sniper legendaris Marinir AS, Carlos Hathcock, saat perang Vietnam. Senjata ini memiliki keakuratan sasaran hingga 900 meter. 

Rupanya senjata dan ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini membantu Tatang dalam pertempuran. Sebab, setelah itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) Cimahi, menjadi pengawal pribadi sekaligus sniper saat terjun ke medan perang di Timor Timur (1977-1978). 

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang dan Ginting). Pertama, melumpuhkan empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, dan anggota pembawa senjata otomatis. Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban. 

"Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," ujarnya. 

Selamat karena Merah Putih

Pada suatu hari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya. Tatang terperangkap dan tak bisa bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Namun, sebelum mati, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu. 

"Posisi komandannya sudah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menunggu saat yang tepat. Hingga pukul 17.00 WIB, komandan itu pergi ke bawah dan saya tembak kepalanya," tuturnya. 

Namun, ternyata, di bawah jumlah pasukan tak kalah banyak. Tatang dihujani peluru dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon. 

"Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya. 

Tatang baru bisa bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dia mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Namun, darah tak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Sambil berdoa, dia mengikatkan syal tersebut di kakinya. 

"Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya. 

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh. 

Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut. 


Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satusniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

BAHAYA..! 28 Desa di Nunukan Terancam Dikuasai Malaysia. Alasannya Mengejutkan!

Karena masih berstatus Outstanding Boundry Problem (OBP), sebanyak 28 desa di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terancam dikuasai Malaysia.

Legislator Provinsi Kalimantan Utara, Hermanus, di Nunukan, Senin (18/7/2016), mengakui bahwa meskipun ke-28 desa tersebut masih dalam penguasaan Indonesia, tidak tertutup kemungkinan situasi berubah jika tidak mendapatkan penanganan yang serius dari pemerintah.

"Walaupun 28 desa di Kecamatan Lumbis Ogong saat ini masih dalam penguasaan Indonesia, situasinya dapat berubah menjadi milik Malaysia apabila tidak secepatnya diselesaikan secara politik," ujar dia.

Kader Partai Nasdem ini menyatakan bahwa perundingan antara pemerintah Indonesia dengan Malaysia berkaitan dengan status 28 desa di kecamatan itu telah dilakukan beberapa kali. Namun, belum ada kesepakatan yang dicapai sehingga berpotensi diajukan ke pengadilan arbitrasi Den Haag Belanda.

Jika itu terjadi, maka peluang Indonesia sangat kecil untuk memiliki wilayah yang berada di Sungai Simantipal dan Sungai Sinapad seluas 154.000 hektare itu karena patok-patok perbatasan yang ada sekarang hanya berdasarkan batas adat.

Sementara masalah tapal batas antara Indonesia dengan Malaysia di Kecamatan Lumbis Ogong tersebut mengacu pada perjanjian penjajah Belanda dengan Inggris sebagaimana yang dimiliki Malaysia.

Hal yang sama dikemukakan, Lumbis, Ketua Pemuda Perbatasan Kabupaten Nunukan, bahwa potensi lepasnya 154.000 hektare wilayah Indonesia kepada Malaysia bisa saja terjadi karena berbagai upaya mulai dilakukan pemerintah Malaysia kepada warga setempat seperti pemberian identitas kependudukan, pengobatan gratis, bantuan lampu listrik, mesin perahu, pembagian buku tabungan dan pendekatan budaya.

�Bahkan lebih menggiurkan lagi adalah memberikan kesempatan kepada warga Kecamatan Lumbis Ogong mendapatkan lapangan kerja yang sangat menjanjikan. Itu membuat masyarakat senang, papar Lumbis.

Tak hanya itu, saat ini pemerintah Malaysia akan membangun infrastruktur sepanjang tapal batas dengan nilai anggaran mencapai 300 juta ringgit atau setara Rp960 miliar dengan kurs Rp3.200. 

sumber : tirto

TNI Intruksikan untuk Nonton bareng Film G30 S/PKI, Ini Alasannya!

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Wuryanto mengatakan rencana nonton bareng film 'G 30 S' yang diselenggarakan TNI AD merupakan momentum untuk kembali mengingat sejarah. Wuryanto menilai saat ini banyak sekali upaya untuk memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.

"Tanggal 30 September kan momen bersejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, saat ini banyak sekali upaya pemutarbalikkan fakta sejarah peristiwa 30 September 1965," kata Wuryanto dalam keterangannya, Jumat (15/9/2017).

Wuryanto memandang masih ada sebagian orang yang berupaya untuk mencabut TAP MPRS No XXV/1966. Tak hanya itu, dia juga menilai ada beberapa kelompok yang mendorong pemerintah untuk meminta maaf kepada PKI.

"Upaya-upaya lain yang dilakukan sekelompok orang untuk pencabutan TAP MPRS no XXV/1966, upaya mendorong pemerintah minta maaf kepada PKI dan lain-lain," tuturnya.

Menurutnya, pelajaran sejarah dan Pancasila pun mulai berkurang selama era Reformasi. Karena itu, dengan adanya penayangan film 'G 30 S', keluarga besar TNI mencoba untuk mengngingatkan kembali kepada seluruh anak bangsa mengenai sejarah yang sebenarnya dialami oleh bangsa Indonesia.

"Sejak era Reformasi, pelajaran sejarah, Pancasila, budi pekerti dan lain-lain kan sangat kurang sehingga selama 19 tahun sampai hari ini, anak-anak muda kita jarang sekali melihat dan membaca sejarah sesungguhnya, bahkan justru yang kedengaran adalah yang sedang diupayakan pemutarbalikkan fakta sejarah karena suaranya lebih keras dan lebih lantang," ujar Wuryanto.

Sebelumnya, sebuah pesan berantai tentang surat edaran ajakan menyaksikan film sejarah 'G 30 S' beredar dari WhatsApp Group (WAG). Surat ditujukan kepada para kepala penerangan TNI Angkatan Darat dan ditembuskan ke Kepala Dinas Penerangan AD serta Kepala Subdinas Dispenad.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal Alfret Denny Tuejeh membenarkan isi pesan berantai tersebut memang dari instasinya. "Iya betul," kata dia saat dimintai konfirmasi detikcom, Jumat (15/9). 

sumber : 
merdeka

Jumat, 15 September 2017

KEREN..! Inilah Siasat Jitu Jendral Gatot Bongkar Korupsi Helikopter Senilai 220 M !

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dibantu KPK tengah mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan helikopter AW101. Untuk sementara diduga kerugian mencapai Rp 220 miliar.

Polisi Militer menetapkan tiga tersangka. Pertama Masma TNI berinisial FA sebagai pejabat pembuat komitmen, Letkol TNI berinisial WW sebagai pejabat kas, dan SS sebagai staf pejabat kas yang diduga membagikan dana.

Jenderal Gatot Nurmantyo membeberkan awal mula kasus ini. Pertama dia dipanggil oleh Presiden Jokowi terkait kasus pengadaan helikopter Augusta Westland 101 ini. Presiden Jokowi sudah menolak pengadaan AW101 sebagai pesawat kepresidenan, namun kenapa heli ini tetap tiba di Lanud Halim Perdanakusuma.

"Setelah itu presiden bertanya ke saya. Kira-kira kerugian negara berapa bapak panglima? Saya sampaikan ke presiden kira-kira minimal Rp 150 miliar. Presiden menjawab, menurut saya lebih dari Rp 200 miliar, bayangkan panglima sampaikan itu tapi presiden lebih tahu kan malu saya," kata Jenderal Gatot Nurmantyo di KPK, Jumat (26/5).

Gatot segera mengusutnya. Kepala Staf TNI AU yang baru, Marsekal Hadi Tjahjanto juga langsung diminta mengusut kasus yang jadi perhatian publik ini. 

"Dengan bekerja cepat maka pada 24 Feb 2017, KASAU mengirimkan hasil investigasi. Dari hasil investigasi KASAU semakin jelas, ada pelaku-pelaku korupsi dan konspirasi," kata Gatot.

Dari laporan tersebut Gatot dan Hadi bergerak menggandeng KPK, BPK dan PPATK. Untuk mengelabui para tersangka, TNI juga sampai menyebut pengadaan helikopter tak bermasalah. Padahal ini disengaja oleh Gatot.

"Ini sebenarnya teknik untuk mengelabuhi para calon tersangkanya sehingga mereka enjoy. Ah tidak ada masalah," beber Gatot.

POM TNI dibantu KPK terus bergerak. Mereka menggeledah empat lokasi yakni PT Diratama Jaya Mandiri, rumah saksi di Bogor, rumah saksi di Sentul, dan sebuah kantor di Bidakara. 

Selain itu, masih dalam rangkaian penyidikan pihaknya juga telah memblokir PT Diratama Jaya Mandiri sebesar Rp 139 miliar. Gatot menegaskan akan mengusut tuntas kasus ini.

"TNI meningkatkan penyelidikan ke penyidikan. TNI sudah dapat informasi awal bahwa minimal ada penyimpangan mark up sekitar Rp 220 Miliar," tegas Gatot.

Sumber : merdeka

Anggotanya Dibunuh, Pangdam Perintahkan 'HABISI' Seluruh Geng Motor di Riau!

Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Cucu Somantri berang, mengetahui ada prajuritnya yang tewas ditikam oleh geng motor, di Kateman Kabupaten Inhil, Riau. Jenderal bintang dua ini pun memerintahkan pasukannya untuk 'memberangus' keberadaan geng motor.

Kekesalan Mayjen TNI Cucu Somantri ini dia luapkan saat konfrensi pers di ruang VVIP Lancang Kuning Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Sabtu (8/7/2017) sore. Ia sengaja datang jauh-jauh untuk mengetahui persis kejadian tragis yang menimpa anak buahnya, Serda Musaini, anggota Bhabinsa di Kateman, Kabupaten Inhil tersebut.

"Saya akan mendorong aparat keamanan untuk menertibkan geng motor. Saya pun juga perintahkan seluruh jajaran di Kodam I, diantaranya Sumut, Riau, Padang dan Kepri agar tidak ada lagi geng motor yang resahkan masyarakat. Ini sudah keterlaluan, bahkan aparat sudah jadi korban," tegasnya.

Hal itu wajar menurutnya, lantaran aksi geng motor sudah sangat meresahkan. Keberadaan penganggu seperti mereka bahkan tidak hanya di kota besar, melainkan sudah ke pelosok, salah satunya di Kateman, Inhil, tempat almarhum Musaini berdinas. "Ini keterlaluan," jawabnya diwawancarai GoRiau.com (GoNews Grup).

Saat kejadian, sambungnya didampingi Danrem 031 Wirabima Brigjen Abdul Karim, prajuritnya tersebut sedang melaksanakan tugas melayani masyarakat. Pelaku berinisial Tam, anggota geng motor tersebut kebetulan ugal-ugalan di jalan, sehingga ditegur oleh Serda Musaini.

"Lagi ikut proses pemakaman warga setempat, di jalan ada sekelompok anak muda bagian dari gang motor, free style ganggu jalanya pemakaman, bahkan jarak 50 meter melewati jenazah menabrak rumah ustad, saat dijalan itu ditegur dia ngelawan. Setelah kejadian itu, karena dendam korban ditikam," singkatnya.

"Ini keterlaluan, sudah berani nusuk Tentara, dia (Musaini) tidak bersenjata, lagi dinas dan membantu warga yang meninggal, itu sudah keterlaluan, kalau sama tentara saja berani geng motor ini, apalagi masyarakat umum," geram Jenderal bintang dua tersebut. ***

sumber : goriau

Kamis, 14 September 2017

Jendral Gatot : TNI Siap Kirim Pasukan ke Myanmar Asal....

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, pihaknya siap mengirimkan pasukan perdamaian untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingnya di Myanmar. Meski demikian, kepastian pengiriman pasukan tersebut harus sesuai kesepakatan dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). 

Gatot menjelaskan, kemungkinan mengirimkan pasukan perdamaian ke negara konflik pasti ada. "Sebab Undang-undang (UU), kita mewajibkan (hal itu). Namun, semua tergantung kepada PBB. Sebab pasukan perdamaian berada di bawah kendali PBB," katanya di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (8/9).

Gatot melanjutkan dalam konteks ini, TNI selalu mempersiapkan pasukannya. Dengan begitu, jika kapan pun diperlukan, pasukan perdamaian dari Indonesia sudah siap berangkat. Saat disinggung lebih lanjut tentang waktu pemberangkatan pasukan, Gatot menyatakan belum ada rencana. Dia hanya memastikan bahwa TNI siap jika diminta PBB. 

"Belum ada rencana, tapi kami siap setiap saat PBB meminta. Siap dengan senang hati," ujarnya.

Seperti diketahui, kekerasan di Myanmar meletus di negara bagian Rakhine di Myanmar pada 25 Agustus lalu. Saat itu pasukan keamanan negara tersebut melancarkan operasi terhadap komunitas Muslim Rohingya.

Krisis kemanusiaan di Myanmar masih terus berlanjut hingga kini. Sejumlah pihak telah menyerukan agar pemerintah mengirim bantuan tentara ke Rakhine. Bantuan kemanusiaan dan dukungan diplomasi dianggap belum cukup untuk menhentikan kekerasan di Myanmar.

sumber : republika