berseragam loreng membawa senjata sudah biasa terlihat. Tapi kalau prajurit membawa dan membaca al-Qur�an di tempat umum, rasa-rasanya ini pemandangan jarang ditemukan.
Seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) berseragam loreng hijau kedapatan tengah asyik membaca Kitab Suci al-Qur�an di atas kereta rangkaian listrik (KRL).
Siang itu, awak hidayatullah.com yang tanpa sengaja satu gerbong dengannya, menyaksikan pemandangan tersebut dalam perjalanan KRL dari arah Jakarta Pusat menuju Bogor, Jawa Barat, Kamis siang, 20 April 2017.
Suasana gerbong pun terasa menjadi istimewa dengan keberadaan sang prajurit Muslim tersebut. Ia tampak khusyuk mengaji, sembari duduk di gerbong yang cukup lengang itu.
Sementara, pantauan hidayatullah.com, para penumpang lain rata-rata tampak asyik bermain gawai masing-masing. Ada pula yang membaca surat kabar.
Saat KRL berhenti di stasiun Pasar Minggu, dua orang penumpang wanita berjilbab yang masuk gerbong tampak langsung tersita perhatiannya dengan sang prajurit.
Seorang darinya melirik anggota Korps Marinir TNI Angkatan Laut itu, lalu berbisik-bisik kepada kawannya. Tak terdengar apa yang dibicarakan, mungkin dia bilang �keren banget tuh tentara�. Sang prajurit tetap khusyuk dengan bacaannya.
Begitu KRL melintasi kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, prajurit yang mengaji dengan suara tak terdengar itu mulai mengakhiri bacaannya. Ia memasukkan mushaf merah muda berukuran seperti laptop 15 inci, cukup besar, itu ke dalam tas ranselnya. Lalu beristirahat.
Sersan Kepala (Serka) Suharyanto, demikian nama pria berusia 34-an tahun ini, mengaku sudah cukup lama punya kebiasaan membaca al-Qur�an di sela-sela tugas dan kesehariannya.
Termasuk, kata dia, rutin mengaji dalam setiap perjalanan di KRL pergi maupun pulang dari Mako Pasmar-2, Jl Kwini II, Jakarta Pusat, tempatnya berdinas.
Rupanya, kebiasaan terpuji itu bagi Serka Suharyanto merupakan persiapan menyambut masa depannya di akhirat kelak.
�Bekal akhirat itu salah satunya adalah membaca al-Qur�an,� ujarnya saat ditemui hidayatullah.com setibanya di Stasiun Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Wah, prajurit keren begini patut diacungi jempol dan diteladani�.!*
Sumber : hidayatullah.com
Senin (24/4) malam menjadi peristiwa yang tidak mengenakkan bagi dua anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Pratu Pasaribu dan Prada Fatah Kudus harus dirawat di rumah sakit setelah bertikai dengan orang-orang tidak dikenal. Dikabarkan, mereka terluka cukup serius karena ditusuk oleh obeng berulang kali.
Peristiwa itu terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Perkelahian itu terjadi tepatnya, di belakang Pura Agung Paspamres Jalan Kesehatan. Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto mengatakan kalau keduanya saat ini sudah dirawat. ��Benar, informasinya demikian. Kami prihatin dengan kejadian itu,�� terang Wuryanto seperti dilansir dari JPNN (Jawa Pos Group).
Informasi yang dikumpulkan, pertikaian itu dipicu saat Pratu Pasaribu bertemu dengan seorang pengendara motor di traffic light Jalan Kesehatan. Entah apa yang menjadi penyebab, yang jelas lantas terjadi cekcok antara mereka. Tiba-tiba, Pratu Pasaribu dikeroyok oleh tiga orang yang sampai saat ini identitasnya belum diketahui.
Tahu temannya dikeroyok, Prada Fatah yang kebetulan melintas berusaha menolong. Namun, belum sempat berbuat banyak, salah satu pengeroyok memberinya bogem mentah. Pukulan itu membuat Prada Fatah tidak sadarkan diri.
Gara-gara itu, keduanya harus dirawat intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta Pusat. Kabarnya, Pratu Pasaribu mengalami luka tusuk obeng di bagian perut kanan dan kiri. Sedangkan Prada Fatah, mendapatkan lima tusukan obeng yang belum diketahui di mana saja lukanya.
sumber ; jawapos
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menanggapi analisis jurnalis asal Amerika Serikat Allan Nairn tentang dugaan makar terhadap Presiden Joko Widodo.
Dalam analisis yang dimuat di media online asal AS dan dikutip media online di Indonesia itu, Gatot disebut ikut andil dalam upaya makar terhadap Jokowi.
"Saya tidak akan menanggapi. Karena terlalu kecil bagi saya untuk menanggapi itu. Itu hoax. Ngapain harus ditanggapi," ujar Gatot saat ditemui di GOR Ahmad Yani, Kompleks Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (22/4/2017).Meski demikian, Gatot tidak akan mengajukan pemberitaan itu ke proses hukum."Kalau tanya sama saya hal yang kecil kayak begitu, ya ngapain harus gitu (melapor). Biar media saja yang cari informasinya ya. Kalau saya, ngapain," ujar Gatot.
"Kalau saya harus mengajukan hukum dengan yang kecil-kecil kayak gitu, itu kan terlalu rendah," kata dia.
Gatot mengatakan, menanggapi pemberitaan semacam itu tidak ada gunanya. Sama saja seperti berkelahi dengan orang tidak waras.
"Itu sama saja dengan kamu berkelahi sama orang gila. Ya mau menang juga kamu dibilang gila. Mau kalah juga dibilang gila ya. Begitu saja," ujar Gatot.
Sedangkan Allan Nairn melalui akun twitternya menantang TNI menggugat tulisan yang dibuatnya.
"Dear TNI: If you want to threaten brave Indonesian reporters and publishers, please threaten me too. (TNI threatens legal action v tirto.id)," cuitnya.
Radimin (57) warga Sarirejo, Kaliwungu, Kabupaten Kendal yang ditemukan di dalam sumur di Lingkungan Ngancar, Bawen, Kabupaten Semarang, Minggu (2/4/2017) siang, kepada polisi menceritakan kronologis ia dirampok.
Kepada polisi, Radimin yang sudah bisa dimintai keterangan setelah dirinya mendapatkan penanganan di RSUD Ambarawa, mengaku, pada Senin (27/3/2017) malam dirinya sampai di Bawen setelah perjalanan dari berkunjung ke tempat orang tuanya di Yogyakarta.
Sesampainya di Bawen, bapak satu anak ini tidak lantas ke arah Semarang, namun berbelok ke arah Solo.
Ia bermaksud mampir ke Lopait Tuntang untuk membeli beberapa perkakas memasak seperti wajan, cetakan kue, dan sotil.
"Saat mau pulang, tepatnya di tanjakan setelah pintu keluar tol Bawen saya dihentikan oleh dua orang tidak dikenal," kata Radimin.
Seketika purnawirawan TNI yang berdinas terakhir tahun 2012 ini langsung dimasukkan ke mobil Toyota Kijang Grand Extra warna merah yang tak ia hafal nomor polisinya.
Setelah di dalam mobil, korban dipukuli dan diinjak-injak hingga tidak sadarkan diri. Korban mulai sadar, Selasa (28/3/2017) siang karena terkena air hujan yang jatuh ke dasar sumur.
"Seperti mimpi saja, saya sadar dalam posisi di dalam sumur. Setelah itu saya pakai ponsel saya untuk telepon anak dan isteri sampai baterainya habis," kata Radimin.
Upaya untuk meminta pertolongan dengan menghubungi beberap nomor kelurganya pun gagal. Tidak ada sinyal seluler hingga di kedalaman sumur yang mencapai 15 meter tersebut.
"Saya tahunya sudah ganti hari jika matahari tepat diatas sumur, berarti itu sekitar jam 12 siang. Itu saja," ujarnya.
Selama di dasar sumur, pria yang sempat bertugas di Kodam IV/Diponegoro, Korem Makutarama 073/Salatiga, dan terakhir bertugas sebagai prajurit Kodim 0715/Kendal tersebut prakti bertahan hidup dengan cara menengadahkan mulut saat hujan atau kadang menampungnya dengan menggunakan baju.
Ketika berada di sumur yang tidak ada airnya tersebut, dirinya tidak bisa bergerak karena kaki dan dadanya sakit.
"Hanya bisa ugat-uget seperti belut, akhirnya saya pasrah dan terus berdoa. Hingga pada hari kelima, akhirnya saya ditemukan oleh pencari rumput," ungkapnya.
Radimin mengaku pada saat kejadian, dirinya membawa tas ransel berisi uang Rp 10 juta dan sepeda motor Yamaha Xeon warna hitam H 4382 ACD.
"Tas ransel berisi uang sekitar Rp 10 juta dan motor Yamaha Xeon tidak tahu di mana," ucapnya.
Dari hasil pemeriksaan medis di RSUD Ambarawa diketahui, korban mengalami patah tulang kaki sebelah kiri. Tepatnya tulang sebelum mata kaki. Selain itu, ditemukan luka lebam dan robek kecil di bagian perut serta dada.
Sebelumnya diberitakan, regu penyelamat berhasil mengevakuasi seorang pria dari dasar sumur berkedalaman lebih dari 15 meter di sebuah kebun kosong di Lingkungan Ngancar, Bawen, Kabupaten Semarang, Minggu (2/4/2017) siang.
Pria bernama Radimin (57) warga Sarirejo RT 2 RW 08 Kaliwungu, Kabupaten Kendal ini mengaku sudah lima hari berada di dalam sumur tersebut. Ia mengaku menjadi korban perampokan dalam perjalanannnya dari Yogyakarta menuju Kendal.
"Awalnya saya kira suara kucing menangis, suara tangisannnya meringik. Setelah dekat, saya kaget dari dalam sumur ada suara orang minta tolong," kata Mukimin, seorang warga yang tengah mencari rumput.
"Lalu saya tanya, kamu manusia bukan? dia jawab, orang," sebutnya"Waktu saya tanyai dari atas, katanya dia dirampok dan dibuang di sumur ini sejak Selasa. Sebelum saya lapor ke warga lainnya, saya sempat lemparkan roti dan air minum ke dalam sumur," kata Faiz (26), salah seorang warga.
Faiz yang bekerja sebagai montir sebuah bengkel di Bawen ini awalnya dicegat oleh seorang warga lain bernama Mukimin (53). Dia diberitahu ada suara orang minta tolong dari dalam sumur.
Mukimin mengatakan, saat itu dirinya tengah mencari rumput di dekat sumur yang tertutup semak belukar di kebun milik Darus di lingkungan Ngancar RT 2 RW 2, Bawen.
"Awalnya saya kira suara kucing menangis, suara tangisannya meringik. Setelah dekat, saya kaget dari dalam sumur ada suara orang minta tolong," kata Mukimin.
"Lalu saya tanya, kamu manusia bukan? dia jawab, 'orang'," ucapnya.
Pria dari dalam sumur itu mengaku sebagai korban perampokan. Demi mendengar penjelasan pria tersebut, Mukimin antara kaget dan tidak percaya, tidak berani menengok ke dalam sumur.
Lalu Mukimin memutuskan untuk memberitahukan kejadian ini kepada warga lainnya.
"Pas sampai jalan, saya ketemu orang, saya beritahu. Kemudian informasinya menyebar," ucap Mukimin.
Regu penyelamat dari SAR Bumi Serasi dan BPBD segera ke lokasi kejadian setelah mendapatkan laporan dari warga.
Regu penyelamat berhasil mengevakuasi seorang pria dari dasar sumur berkedalaman lebih dari 15 meter di sebuah kebun kosong di Lingkungan Ngancar, Bawen, Kabupaten Semarang, Minggu (2/4/2017) siang.(Kompas.com/Syahrul Munir)
Upaya penyelamatan dilakukan dengan menggunakan alat utama vertical rescue dan berlangsung selama hampir satu jam. Dari atas, dasar sumur yang tidak mempunyai bibir tepi tersebut tidak tampak lantaran sangat dalam.
Sumur dengan diameter 1.5 meter ini juga sudah tidak berair. Dua orang petugas yang turun ke dalam berhasil mengevakusi Radimin sekitar pukul 10.48 WIB.
Saat ditemukan, Radimin dalam kondisi lemah dan segera dilarikan ke RSUD Ambarawa untuk mendapatkan penanganan medis.
Aparat Polsek Bawen sedang mendalami peristiwa ini. Data sementara, berdasarkan kartu identitas berupa KTP dan kartu BPJS, Radimin merupakan anggota TNI.
sumber : kompas.com
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon meminta polisi mengusut tuntas peristiwa mobil terbakar di Cawang, Jakarta Selatan. Insiden itu terjadi bersamaan dengan acara Isra Miraj yang digelar FPI dan Habib Rizieq.
"Ya itu menurut saya juga harus segera diinvestigasi. Itu siapa yg melakukan itu? Sama seperti siapa yang menyiram air keras kepada Saudara Novel," kata Fadli di Komplek Parlemen DPR, Jakarta, Senin (17/4).
Fadli menyebut jangankan peristiwa besar. Kasus Iwan Bopeng yang dulu ramai karena menantang TNI pun tak ada kabarnya.
"Yang melakukan ancaman seperti Iwan Bopeng sampe hari ini tidak ketemu," ujarnya.
Jika memang Iwan Bopeng tidak dapat diketemukan, nantinya Fadli akan membuat sayembara mencari Iwan Bopeng.
"Bagaimana kok nyari Iwan Bopeng aja nggak ketemu. Apa perlu ada sayembara? Kalo boleh, saya bikin," tuturnya.
"Saya kasih hadiahnya untuk mencari Iwan Bopeng," pungkasnya.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan seluruh personel TNI tak takut menindak oknum yang melanggar hukum pada Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 19 April 2017.
TNI mengerahkan sekitar 13 ribu personel di 13.024 Tempat Pemungutan Suara di seluruh Jakarta. Panglima Gatot menegaskan, seluruh personel TNI harus menjamin keamanan warga Jakarta untuk menggunakan hak pilihnya.
Warga diharuskan aman mulai berangkat dari rumah ke TPS, sampai kembali ke rumah. Hak memilih adalah konstitusi, sehingga negara dituntut untuk hadir. Bila masyarakat merasa ada intimidasi dan tidak aman saat milih, artinya negara tidak hadir.
"Kalau masyarakat merasa takut dan tak aman, dan tak bisa melaksankan haknya, maka negara tak hadir," ujar Gatot di Ecovention Ancol, Jakarta Utara, Selasa (18/4/2017).
Diucapkan Gatot saat memberikan arahan kepada seluruh personel TNI-Polri dalam acara apel pembekalan pasukan pengamanan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.
Gatot menjamin jika personel TNI tidak akan menduduk di kursi pesakitan saat menindak adanya bentuk intimidasi dan ancaman yang dialami masyarakat yang menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara, Rabu (19/4/2017) besok.
"Ini tugas mulia, lakukan tugasmu, pelajari betul apabila kamu melakukan tugas sesuai prosedur, apapun akibatnya untuk membuat Jakarta aman saya jamin kamu tak akan duduk di meja hijau sebagai terdakwa," ujar Gatot.
Gatot siap menghadapi proses hukum untuk membela prajuritnya. Terutama, yang melakukan tindakan tegas kepada pihak yang mengacaukan pelaksanaan Pilkada."Ini direkam, yang sebagai terdakwa yang memberi perintah kamu, panglimamu sebagai terdakwa," ujar Gatot.
Gatot memerintahkan jajarannya agar tidak ragu mengambil tindakan tegas untuk melindungi masyarakat khususnya warga Jakarta saat proses pemungutan suara berlangsung."Selamat bertugas selamat berjuang, saat ini negara memanggil kamu untuk berperang," tambahnya.
62 ribu personel gabungan dari unsur Polri, TNI dan Linmas yang disiagakan untuk mengamankan seluruh TPS. Gatot juga menambahkan ada pasukan cadangan dari TNI dan Polri juga telah disiapkan untuk menjaga situasi keamanan Jakarta.
"Kemudian di dekat TPS ada pasukan yang siap digerakkan setiap saat menuju tempat yang perlu bantuan, Kapolri siapkan pasukan cadangan dan saya siap pasukan cadangan," ujar Gatot.
sumber : tribunnews
Membahas Kyai Haji Noer Alie � tak akan lengkap tanpa membahas �begundal dari Karawang� ini�. Begitu julukan tentara Belanda buat Loekas Koestaryo��.Loekas sendiri tak mengetahui secara pasti apa sebab Tentara Belanda waktu itu menembaki warga Rawagedeh yang tak berdosa� hanya sangkaan Loekas adalah tentara Belanda frustrasi karena tak dapat menangkap ia dan Kyai Haji Noer Alie�..
Berikut petikan wawancara Pak Loekas Koestaryo dengan wartawan Tempo��.
�Maaf, sudah lama saya tidak menangis,� kata Lukas sambil mengusap air mata menggunakan ujung lengan panjang kemejanya. �Saat peristiwa pembantaian, saya sedang tidak di Rawa Gede, tapi di kampung lain di sekitar Karawang. Saya baru tahu pembanyaian itu keesokan harinya,� ujar Lukas.
Lukas mengaku tidak tahu persis alasan Belanda membantai penduduk tak berdosa itu. Namun, dia yakin peristiwa amat dahsyat itu disebabkan oleh rasa frustrasi pasukan Belanda yang tidak mampu menangkap pasukan pejuang, temasuk dirinya dan KH Noer Alie. �Kadang saya menyesal, mereka menjadi korban pembantaian demi melindungi para pejuang, termasuk saya dan KH Noer Alie,� kata Lukas.
Kebetulan, kata Lukas, saat itu daerah sepanjang rel kereta api yang membentang dari Karawang, Rawa Gede, dan Rengasdengklok menjadi basis pertahanan pejuang. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Kapten Lukas Kustario dan KH Noer Alie sama-sama menempatkan pasukannya di Karawang dan sekitarnya.
Namun, secara alami, mereka saling berbagi wilayah operasi gerilya.
Lukas memegang wilayah dari Rengasdengklok, Rawa Gede, Karawang, ke selatan hingga hutan Kamojing. Adapun KH Noer Alie (Pimpinan Umum Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah Jakarta Raya) dari Karawang ke utara, membujur dari Rawa Gede, Rengasdengklok, Batujaya, hingga Pakis. �Semua pejuang berpakaian seperti rakyat. Tak ada yang berani menggunakan pakaian dan uniform TNI, karena Karawang-Bekasi sudah dikuasai Belanda sejak Agresi Militer Belanda I,� kata Lukas.
***ANAK petama Lukas, Lusiati Kushendrini Purnomowati, ingat ia pernah mendengar cerita tentang kejelian dan kelicinan ayahnya itu dari neneknya, Darsih. Ketika itu, kata Lusi, beberapa pekan menjelang peristiwa Rawa Gede, Lukas tengah di rumahnya di Cikampek bersama istrinya, Sri Soesetien, mertuanya Soekirno dan Darsih.Tiba-tiba di depan rumah sudah berdiri sepasukan tentara Belanda. �Hati-hati Belanda, itu,� kata Darsih membisiki Lukas. Lukas yang masih mengenakan celana kolor, kaos singlet, dan kepala dililit handuk, tenang saja. �Di mana Lukas?,� kata seorang tentara Belanda kepada Lukas.Lukas pun menjawab santai, �Oo, nggak tahu, barang kali di sana.� Begitu Belanda menjauh, Lukas segera berganti pakaian. �Langsung berangkat,� katanya. Lukas bertemu keluarganya kembali menjelang hijrah ke Yogyakarta pada Februari 1948.
Anak buah Lukas, Letanan Dua (Purnawirawan) TNI Soepangat, mengungkapkan, Komandan Batalion I Mayor Sudarsono sengaja menempatkan pasukan Lukas di Karawang yang �panas,� karena cocok dengan karakter Lukas yang pemberani dan cekatan.
Saat bertempur, Lukas selalu berada di posisi depan anak buahnya. Di sampingnya ada dua orang anak buah. Satu orang memegang bren, satu orang lagi memegang peluru. Saat berhadapan dengan musuh, kata dia, Lukas melakukan penembakan menggunakan bren telah tersedia di sisinya �Yang kesohor Lukas, karena itu (Rawa Gede) daerah kekuasaannya,� kata Soepangat di Cipanas, Cianjur, Kamis dua lalu.
Saking sulitnya Belanda menangkap Lukas, pihak Republik Indonesia menjulukinya sebagai tentara �kelotokan,� sedangkan Belanda menjulukinya sebagai �begundal� Karawang-Bekasi.
Perjalanan karir Lukas di ketentaraan bermula dari Madiun pada masa Pendudukan Militer Jepang 1942-1945. Lelaki kelahiran Magetan, 20 Oktober 1920, itu menjabat chudancho (komandan seksi) heiho di Madiun.Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Lukas dan rekan-rekannya mendatangi markas tentara Jepang untuk meminta senjata.
Mereka dipanggil Presiden Soekarno ke Jakarta, untuk menjaga keamanan. Sekitar 120 tentara dari Madiun diberangkatkan menggunakan kereta api pada 26 September dan tiba di Jakarta pada 29 September.
Bentrokan antara pejuang dengan tentara Sekutu-Inggris tak terelakkan. Terjadilah pertempuran sporadis, terutama di Senen, Kramat, dan Klender. Sebagian besar pasukan Madiun ditarik ke Surabaya paska peristiwa 10 Nopember 1945.
Yang tersisa di Jakarta tinggal sekitar 20 orang, yakni Seksi I Lukas Kustaryo di bawah Komandan Kompi I Banu Mahdi. Selanjutnya Kompi I ditempatkan di bawah komando Resimen VI/Cikampek.
Pada 13 Desember 1945, kota dan kampung-kampung di Bekasi dibom dan dibakar tentara Sekutu-Inggris. Penyebabnya, 26 tentara Sekutu-Inggris yang pesawatnya melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel, Cakung, pada 23 Nopember, dibunuh oleh para pemuda Bekasi pada awal Desember.
Lukas yang marah atas tindakan biadab tentara Sekutu-Inggris tersebut, membawa pasukannya dibantu pemuda pejuang Bekasi untuk menyerbuan markas Sekutu-Inggris di Cililitan. �Kita bisa menekan moril pasukan Sekutu-Inggris dan Belanda, sehingga mereka tidak bisa keluar dari Cililitan, menimbulkan kekalutan mereka,� kata Lukas dalam wawancara saya pada 1992 itu.
Dari Bekasi, Lukas dan pasukannya ditugaskan ke Karawang. Di sana, Lukas menikah dengan Sri Soesetien, anak Kepala Stasiun Cikampek, Soekirno, pada 15 Oktober 1946. �Kedua orangtua bapak (Lukas), Djojodihardjo dan Prapti Ningsih, beragama nasrani. Saat menikah dengan ibu saya, beliau (Lukas) sudah muslim,� kata Lusiati.
Ketangguhan Lukas kembali diuji ketika pasukan Laskar Rakyat Jakarta Raya menyerang TRI di Tambun April 1947. Saat perundingan dengan Laskar Rakyat Jakarta Raya mengalami jalan buntu, Batalion I yang dipimpin Lukas bergerak ke Tambun. Lukas berhasil memukul mundur Laskar Rakyat Jakarta Raya.
Sebagian dari pemimpin Laskar Rakyat bergabung dengan tentara Belanda di Jakarta. Lukas merasa kecewa tatkala tentara di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin memerintahkan batalionnya bersama batalion Supriyatna dan batalion Sumantri, agar pindah ke Tasikmalaya.
Sebagai gantinya, ditempatkan Batalion Beruang Merah dari Tasikmalaya. Namun, pertahanan Beruang Merah di Tambun amat lemah, sehingga sangat mudah ditaklukkan Belanda saat Agresi Militer pada 21 Juli 1947. Pertahanan Republik pun beset hingga Karawang dan Cirebon.Untuk mengembalikan pertahanan yang sudah dikuasai pasukan Belanda, Divisi Siliwangi melakukan konsolidasi. Lukas dan kawan-kawannya pun dikembalikan ke Karawang-Bekasi. Selain melakukan perang gerilya, mereka juga membentuk pemerintahan sipil, untuk menandingi pemerintahan bentukan Belanda.
Dampaknya, moral pasukan dan penduduk kembali bangkit. Watak agresif dan berani pula yang membuat Lukas kerap berhasil melumpuhkan lawan. Sebagai contoh, kata Soepangat, sebelum kembali ke Karawang-Bekasi pada Oktober-Nopember 1947, Batalion I melumpuhkan pasukan Belanda dalam perjalanan dari Tasikmalaya, Sumedang, Subang, Purwakarta, dan hingga Cikampek.
�Nah, yang bisa menghancurkan panser Belanda itu, ya, Kompi Lukas. Itu sebabnya, Belanda amat mengenalnya,� ujar Soepangat. Makanya, begitu Lukas ditempatkan di Karawang, komandan �begundal� ini membikin �gerah� tentara Belanda.
Buktinya, ujar Soepangat, Belanda banyak kehilangan senjata dan jiwa dalam aksi-aksi gerilya yang dipimpin Lukas. Perang gerilya yang diajarkannya adalah, �Sekali serang, dua kali tembak, tiga kali hilang,� katanya.
�Umpamanya saya pegang pistol, ketemu Belanda. Setelah kita tembak, kita ambil senjatanya, lantas kita menghilang. Itu tiap hari kejadiannya. Ini yang membuat nama Lukas kesohor,� Soepangat menambahkan.
Berbagai cara dilakukan Belanda untuk memburu Lukas, namun lelaki dengan tinggi badan 160 senti meter itu bermata dan berotak jeli bagai elang dan licin bagai belut. Dia selalu lolos dalam setiap penyergapan. Selain mampu mengecoh lawan, Lukas juga dikenal sebagai sosok yang mampu menjalin hubungan erat dengan semua komponen pro-Republik Indonesia.
Dalam menjalankan aksi gerilyanya, Lukas selalu berkoordinasi dengan rekan-rekannya, seperti Kapten Mursjid sebagai Komandan Kompi II bergerak di Gunung Sanggabuana, dan Kapten Kharis Suhud, Komandan Kompi III di Kedung Gede hingga Cibarusah.
Lukas mengakui perjuangannya yang cenderung mulus juga berkat hubungan yang erat antara dirinya dengan gerilyawan lain dari badan-badan perjuangan, jawara, bandit, rampok, hingga rakyat jelata. �Saya menyatukan (semua komponen), jangan sampai perang saudara. Sebagian besar tidak menolak, karena tujuannya melawan Belanda,� kata Lukas. �Pasukan KH Noer Alie membantu. Mereka kasih makan, penunjuk jalan. Kalau saya mau mundur ke mana, semua diatur Pak Kiai,� kata Lukas.
Pada saat Divisi Siliwangi hijrah dari Jawa Barat ke Yogyakarta dan Jawa Tengah sejak Februari 1948, Lukas yang naik pangkat menjadi mayor dan naik jabatan sebagai Komandan Batalion 4 Tajimalela, kembali menunjukkan kebolehannya.
Selain memberantas pemberonakan PKI di Madiun, Lukas juga kerap memukul pasukan Belanda. Ketika itu, pada Desember 1948, tentara Belanda dari Batalion 3-11 RI Brigade W/Divisi B yang bergerak dari Banyumas dak merebut Banjarnegara, namun dihentikan dan dipukul mundur oleh Lukas.
Adalah Abner Mote, anak asli pedalaman Papua kelahiran Kabupaten Deiyai Provinsi Papua ini sangat bangga takkala dirinya berhasil lulus dan dilantik menjadi anggota TNI berpangkat Prajurit Dua.
Ditemui setelah pelantikan dirinya bersama 218 Siswa Dikmata TNI gelombang I Tahun 2016 di Rindam XVII/Cenderawasih, Abner begitu dia dipanggil sangat bangga dan haru bisa masuk menjadi anggota TNI.
�Saya sangat senang dan bangga bisa menjadi TNI, dan saya akan membela bangsa dan negara serta masyarakat,�katanya, Sabtu (17/4/2017).
Abner yang menginginkan masuk kejuruan Infatri ini merupakan anak semata wayang dari Bapak Fransiskus Mote dan ibu Yabelina ini berjanji akan mengabdikan diri untuk masyarakat dan warga kampung Deiyai jika ditugaskan kembali kekampung halamannya.
�Saya akan mengabdi untuk mayarakat di kampung, dan saya berharap Papua tetap dalam NKRI , bersatu,�ucapnya.Sementara, ayah Abner Mote, Faransiskus Mote, dalam kesempatan yang sama,mengaku sangat bengga atas dilantiknya sang anak menjadi anggota TNI.Bahkan dirinyatidak percaya jika anak semata wayangnya tersebut bisalulus menjadi anggota TNI.
�Saya sangat bangga,saya tidak percaya anak saya bisa menjadi Tentara, karena kami hanya orang kampung yang hanya berkebun saja,�ungkapnya dengan rasa haru.Prajurit Dua (Prada) Abner Mote.adalah putra asli Papua yang beruntung. Direkrut khusus oleh TNIuntukmenjalanipendidkan selama lima bulan di Rindam XVII/ Cenderawasih dan selanjutnya dilantik setelah menyelesaikan pendidikan pertama. Prada Abner Mote direkrut khusus oleh Kodam XVII/Cenderawasih melalui jajarannya untuk masuk menjadi anggota TNI bersama 79 putra asli Papua wilayah pegunungan Papua yang lain.
Tujuan perekrutam khusus tersebutdilakukan Kodam XVII/Cenderawasih sperti yang disampaikan oleh Pangdam Mayjen TNI Hinsa Siburian, adalah untuk pemerataan TNI diwilayah Pedalaman Papua. Selain itu,dijadikan ujung tombak yang menyentuh masyarakat setempat karena merekalah yang mengerti akan bahasa dan adat istiadat setempat.( Ed/Papua).
Caption foto :Serda Abner Mote.abner
sumber : papua.us
Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan penyebab konflik dan perang kini bergeser bukan lagi akibat perbedaan agama, suku dan bahasa, melainkan untuk memperebutkan energi sebuah negara oleh negara lain.
"Semua konflik melanda negara-negara penghasil minyak, yang terakhir terjadi di Suriah dan Ukraina. Sekarang, 70 persen konflik karena energi, dan nanti akan berubah ke tujuannya merebut pangan dan air yang konfliknya bergeser ke negara ekuator," katanya saat memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II, Kota Pekanbaru, Rabu.
Menurut dia, negara-negara ekuator yang menjadi ancaman konflik berlokasi di Asia Tenggara, Afrika Tengah dan Amerika Latin. Indonesia tidak luput menjadi sasaran karena kekayaan alam dan jumlah populasi penduduknya.
"Kalau tidak waspada, kita bisa diusir dari negeri ini. Seperti Indian di Amerika dan Aborigin di Australia," kata Panglima TNI.
Panglima TNI mengingatkan, ancaman tersebut bisa dikalahkan selama rakyat dan generasi muda Indonesia berpegang teguh pada Pancasila untuk menjaga kebhinekaan NKRI.
Tokoh pendiri Indonesia menempatkan lima sila Pancasila yang mengandung makna mendalam tentang ketuhanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, dan demokrasi Pancasila yang menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Republik Indonesia bukan milik satu golongan, adat, dan agama. Islam adalah satu napas dengan ke-Indonesiaan dan kemanusiaan, tanpa membedakan suku," kata Panglima TNI.
sumber : republika